balada jadwal kuliah

Jadi hari ini jadwal kuliah sudah terpampang manis di papan. Sesuai dengan doaku, analisis dapat kelas pak atok. kebetulan yang menyenangkan, bukan? *ya, itu satu hal*

Hal yang lain, hari selasa aku kuliah dari jam ke-4 sampai jam ke-9. Hmm dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. ckckck… padahal hari itu juga aku ada kuliah dengan anak-anak, jam setengah satu sampai jam 5 sore. 

Krikk..krik.. harus putar-putar jadwal lagi nih biar hidup bisa berjalan dengan harmoni dan selaras… 

Semangaaatttt ^__^

balada tesis

Beberapa jam yang lalu aku bertahan ‘ngadem’ di perpus jurusan. Memang benar-benar dingin ber-AC. Mana tidak ada manusia lain selain dua petugas perpus.. Bertambah dinginlah ruangan itu. Hfff…tapi sebenarnya tujuanku bukan itu. Aku mau melihat dan ngecek isi tesis-tesis terdahulu, sebenarnya apa saja yang harus ditulis di sebuah tesis bertopik model matematika.

Ternyata, ada beberapa kategori penulisan (ini sih kesimpulan pribadiku). golongan pertama adalah penulis yang menuliskan modelnya langsung pakai persamaan matematika, tentu saja sudah ditambahi asumsi yang dipakai, plus variabel-variabel yang dipakai. Modelnya langsung jadi. Titik. Setelah perumusan langsung masuk ke analisis sistem (kestabilan, titik ekuilibrium, dst..dst).

Golongan kedua adalah penulis yang menuliskan modelnya lengkap dengan cerita awal mula terbentuk model itu. ceritanya komplit, panjang, lebar dengan daftar pustaka yang disebutkan secara lengkap. bahkan–bayanganku–kalau ada kaitan dengan zaman romawi, pasti juga akan tertulis di tesis ini.. Hehehe.. Dan menurutku ini baguus banget. keren.. bisa melacak dengan runtut sampai sejauh itu.

aku? aah beluum.. maunya merunut panjang… tapi setiap baca paper dan jurnal, tiap tiga puluh menit saya terserang mabuk, mual, pusing dan mendadak ngantuk beraat…

Hati hanya memiliki dua s…

Hati hanya memiliki dua sayap. Kalau hatimu senang, kamu sedang menyentuh surga. Kalau sedang susah, positif thingking saja. Allah hanya menempa. Kamu sedang dibakar dalam api kesucian, seperti perjalanan gandum menjadi roti. Kalau tidak mau ditempa, Jalaludin Rumi menyatakan : minggir lah kamu, kamu akan jadi bunga tanpa aurora. Maka sebenarnya Kamu akan diangkat setara dengan ujian yang ditaburkan kepadamu

Cak Nun

Hati hanya memiliki dua sayap. Kalau hatimu senang, kamu sedang menyentuh surga. Kalau sedang susah, positif thingking saja. Allah hanya menempa. Kamu sedang dibakar dalam api kesucian, seperti perjalanan gandum menjadi roti. Kalau tidak mau ditempa, Jalaludin Rumi menyatakan : minggir lah kamu, kamu akan jadi bunga tanpa aurora. Maka sebenarnya Kamu akan diangkat setara dengan ujian yang ditaburkan kepadamu

Cak Nun

Rindu (lagi)

Jadi, begini ya rasa rindu itu. Persis sama dengan yang kutulis beberapa tahun yang lalu (kena kutukan nih saya kayaknya).

Duh Allah yang maha misterius, kata orang-orang itu..kalau sedang terserang rindu, sampaikan saja padaMu.. nanti Engkau sendiri yang akan menyampaikannya langsung ke hatinya.
Jadi tolong ya, kali ini jangan bosan mendengar curhatanku..Boleh yaa?

Rindu Itu…

Rindu itu ketika berjam-jam menyusuri dunia maya sambil tetap terjaga dan cemas berharap akan ada sebuah nama muncul menyapa tiba-tiba.

Rindu itu berhari-hari berbincang dengan diri sendiri lalu mentranskripnya menjadi  rangkaian paragraf sepanjang duapuluhenamribudelapanratustigapuluhdua kata.

Rindu itu menghabiskan berlembar kertas untuk meracau kacau soal masa depan : sebuah rumah kecil beratap panel surya dengan rimbunan mawar yang menghiasi beranda, perpustakaan kecil di sudut sana, dua buah teropong bintang serta sebuah globe raksasa.

Rindu itu ketika pura-pura sibuk dan sibuk pura-pura. Memenuhi duapuluhempat jam dengan jadwal jalan-jalan tak bertuan. Menantang awan dan berhujan-hujan tanpa alasan agar nanti malam sibuk membalut selimut menghangatkan badan.

Rindu itu menjemput kantuk dengan tenggelam dalam tumpukan novel setebal delapanratus-an halaman.

Rindu itu terpaksa menekuri soal-soal kalkulus dan trigonometri demi menemukan nama atas frustasi yang mendadak menyergap tanpa permisi.

Rindu itu menghabiskan senja yang tak biasa, mempertahankan kesadaran sambil menatap langit : sendirian.

(Kediri, menjelang 2011)

>> Yihaaaaa….salah sendiri dulu nulis itu.. sekarang terbukti beneran… dari tadi menekuri kalkulus lanjut, integral lipat, teorema fubini sambil berharap waktu segera berlalu atau saya segera berdamai dengan diri sendiri.. #krik..krik..krik…