Lost In Melaca

Gereja dan Becak khas Melaka

17 Oktober 2011
Hujan menyambut kedatanganku di Malaka siang itu. Benar-benar sebuah hujan sehingga aku harus membuka payung ketika turun dari bus panorama, untuk kemudian berteduh di depan Gereja Crist Church, setelah terlebih dahulu mengantarkan seorang ibu yang sama-sama turun denganku ke deretan toko aksesoris di depan gereja.

Inikah melaka? Kota yang ditetapkan UNESCO sebagai world heritage city? Tak percaya rasanya, tapi benar-benar aku sudah sampai disini. Dengan selamat, Alhamdulillah. Di depan gereja itu, bersamaku ada sepasang suami istri bersama dua anaknya dan seorang anak lagi yang sedang digendong bersama-sama menunggu hujan reda. Dari percakapan mereka, kutebak mereka dari Eropa. Salut deh sama keluarga ini, mereka mengajak anak mereka travelling sejak kecil, diajak menyusuri kota tua, mempelajari peta dan melihat sisi lain dunia.

Hujan sudah mereda ketika aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak seperti di Kuala Lumpur dan Singapura, dimana aku mempertimbangkan segala kemungkinan, kali ini aku melakukan spekulasi besar-besaran. Aku mengandalkan keyakinan bahwa Allah akan menolongku.  Entahlah. Kala itu, aku sedang benar-benar ingin sendirian.

Aku menyusuri jalan dengan sedikit merasa merana, mana sendirian, badan capek, kaki pegal, perut lapar sambil setengah menyesal kenapa tidak mampir makan di Melaka Sentral tadi. Keadaan itu diperparah salah alamat yang membuatku beberapa kali harus mondar mandir sebelum menemukan penginapan.

Tapi, Alhamdulillah setelah ketemu penginapan, Bapak pemilik penginapan baik hati dengan memberiku peta, arahan dan memberi tahu beberapa tempat penting, termasuk laundry, tempat makan halal dan warnet. Dan lebih menyenangkan lagi, kali itu temen sekamarku adalah seorang gadis jepang. Namanya Yuko dengan aksen bahasa inggrisnya yang mudah kupahami. Ketika tahu kalau aku tamasya sendirian, Yuko sedikit kaget dan mengatakan bahwa Selama ini dia belum pernah ketemu dengan gadis dari Indonesia, Malaysia dan Filipina yang bertamasya sendirian. :p *aku yakin, bukan ga ada, tapi belum ketemu saja.

Yuko sendiri sudah sebulan lebih tinggal di Melaka. Dulu dia kerja di Jepang (Kotanya aku lupa) trus resign dari tempatnya kerja dan sekarang tinggal di Melaka untuk belajar kuliner peranakan. (Jadi, dia belajar tentang makanan di sebuah restoran china). Ketika kutanya mau sampai kapan dia tinggal di Melaka, dia bilang, sampai November. Selanjutnya dia akan ke Bangkok, Thailand. Wew!

Kincir Angin peninggalan kesultanan Melaka

Selesai membersihkan diri dan makan, aku keluar penginapan. Aku berencana naik kapal menyusuri sungai Melaka malam itu. (Sebenarnya penginapan ini tepat disamping sungai melaka, jadi kalau mau susur, ya tinggal jalan saja…hanya saja aku pingin ngerasain gimana naik kapal di sungai melaka di malam hari). Ahaii! Dan benar saja, aku menaiki kapal sesaat setelah lampu-lampu di sepanjang sungai dihidupkan. Ahh romantis habis. Cantik! Belum lagi di sepanjang perjalanan, ada mbak yang bercerita dengan bahasa melayu tentang tempat-tempat bersejarah di sepanjang sungai melaka. Yang ini bangunan melayu, bangunan british, bangunan belanda… Jadilah malam itu wisata sejarahku dimulai.  Aku serasa kembali ke masa lalu ketika sungai melaka ini masih menjadi bandar yang ramai dan menjadi pusat perdagangan dunia.

18 Oktober 2011
Hari ini agendaku adalah mengunjungi museum-museum di Melaka. Mungkin lebih tepatnya menyaksikan sisa  kejayaan kesultanan melaka. Ada banyak museum di sekitar Studhuys dan letaknya tidak begitu jauh, bisa dijangkau dengan jalan kaki, tetapi kalau mau berkeliling naik becak, kita bisa menyewa becak dengan ongkos 10RM. Ada Museum Kesultanan Melaka, Museum Islam, Museum Samudera (Anda akan melihat beberapa versi peta dunia dan peta asia tenggara jaman doeloe), Museum Diraja Malaysia, dll. Jangan lupa mengunjungi Kampung Morten, perkampungan melayu yang ada di Melaka.

Sejarah Melaka dimulai tahun 1403 sejak kedatangan Parameswara, pangeran Hindu dari kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Parameswara mendapat gelar Raja Iskandar ketika dia memeluk Islam dan menjadi penguasa pertama di kerajaan itu, yang akhirnya menandai lahirnya kesultanan Melaka. Selama 110 tahun Melaka–dibawah kekuasaan kesultanan-menjadi bandar internasional yang ramai sampai akhirnya Portugis menyerang Melaka dan memonopoli perdagangan rempah-rempah. Hal itu mengakibatkan bangsa eropa lain enggan masuk Melaka dan mencari rempah-rempah di negeri asalnya, Nusantara. Sejak itulah bangsa barat memasuki dan mulai menguasai Nusantara.

Ironis sekali,  jauh-jauh ke melaka tapi sama sekali aku belum pernah menjejakkan kaki di Bumi Sriwijaya.  Semoga suatu hari nanti berkesempatan mengunjungi bekas kerajaan Sriwijaya.

Pintu Gerbang Santiago
Pedestrian di pinggir Sungai Melaka
Peta Asia Tenggara th.1568 di Salah satu Museum.. Hey.. Itu Nusantaraku!
Salah satu rumah di Kampung Morten
masjid kampung hulu : salah satu masjid tertua di Malaysia

Oya,

#1. Legenda Hang Tuah berasal dari kota ini. Aku belajar banyak soal legenda Hang Tuah di Museum Kesultanan Melaka. Ada juga jembatan yang diberinama jembatan Hang Tuah. Tapi aku gak sempet mengunjungi makamnya.

#2. Selama melakukan perjalanan di Melaka aku ketemu dan berbincang dengan beberapa turis. Waktu naik kapal, aku duduk dengan seorang turis dari Australia. Ketika kutanya, pernahkah ke Indonesia? Dia bilang : Indonesia? Oh not yet! Dan dia bilang, dia tidak memasukkan Indonesia ke dalam list-nya (Karena kasus Bom bali itu kayaknya!). Di penginapan, aku ketemu turis dari Jerman (sambil mengingat lagi bahasa Jerman yang dulu pernah kupelajari di SMA). Asli, mas dari jerman ini cakep. Manis..! Bahasa Inggrisnya juga mudah kupahami. Dia belajar Geografi di Universitas di Jerman, otomatis belajar tentang Indonesia, tapi belum pernah mengunjungi Indonesia. “It’s a big country!” katanya waktu kutanya soal Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s