Matematika dan Pendidikan Karakter

semacam booklet dan notebok

Seminar Nasional ini diselenggarakan tgl 3 Desember 2011 di FMIPA UNY, dengan pembicara Prof.Dr.Widodo,M.S (ketua program studi S2 dan S3 Matematika FMIPA UGM) dan Bpk pejabat dari direktur direktorat pembinaan SMP. Pesertanya sebagian besar dosen, sebagian lagi mahasiswa matematika (S1 dan S2) hingga guru sma bidang studi matematika.

Prof.Wid memulai sesinya dengan cerita bahwa di Amerika sana, profesi dengan gaji tertinggi kedua adalah matematikawan. Bagaimana dengan di Indonesia? (kata beliau begitu). Beliau juga mengutip kata-kata dari Prof. Soehakso (profesor matematika pertama di Indonesia) bahwa matematika adalah gadis tercantik di seluruh dunia. Dulunya, prof Wid tidak paham kenapa Prof. Soehakso mengatakan hal tersebut. Apa maksudnya? Ternyata setelah dipelajari lagi, yang dimaksud cantik adalah cantik polanya termasuk pola abstraknya, yang dimaksud di seluruh dunia adalah teorema di matematika yang bersifat universal di seluruh dunia, misalnya penemuan rumus kosinus Al-Khawarizmi berlaku di seluruh dunia, dan hampir bisa dipastikan tidak ada teorema Phytagoras yang berlaku untuk lokal indonesia saja.

Secara filosofi, matematika mengajarkan berlaku ‘benar dan konsisten’. Benar dan konsisten adalah dua hal berbeda namun saling berhubungan. Pernyataan dikatakan benar jika mempunyai nilai kebenaran ‘benar’. Dua pernyataan disebut konsisten jika kedua pernyataan tsb tidak saling kontradiksi. Dalam semesta yang telah ditentukan, di ilmu matematika, tidak pernah ada kontradiksi antara satu hal dengan yang lain.

Kaitannya dengan pendidikan karakternya bagaimana? Nah, menurut Prof. Wid, dalam ilmu matematika, peserta didik diajak untuk berpikir kritis, analitis, terstruktur, teliti, terbuka terhadap kritik, benar dan konsisten, tidak ada pertentangan nilai kebenaran di dalamnya.

Lalu bagaimana prakteknya? Di sesi tanya jawab, beberapa penanya curhat soal bagaimana kenyataan matematika di ranah pendidikan, ada yang bertanya soal contek mencontek yang membudaya di kalangan siswa (terutama SMA/SMP), ada yang bertanya soal logika kurikulum matematika di tingkat sekolah (anak kelas 2 SD belum diajari desimal, tapi sudah diminta mengkonversi ukuran yang membutuhkan pengetahuan soal desimal. bagaimana itu?) trus juga ada yang bertanya soal siswa RSBI yang kerjaannya  bikin presentasi trus bahannya diambil dari internet (copas gitu).

Sayang waktu untuk diskusi tidak begitu banyak, prof. Wid hanya menyinggung soal budaya nyontek yang terjadi di kalangan siswa, diduga disebabkan beberapa hal, antara lain berbedanya apa yang diajarkan guru dan apa yang diujikan sehingga menyebabkan siswa kesulitan dan akhirnya mencontek, karakter soal yang ABC-an yang memudahkan siswa mengutip jawaban temennya. Kalau di China, ujian matematika punya tiga tipe soal, multiple choice, menjodohkan dan menjawab essai. Belum lagi diperparah dengan momok bahwa matematika itu susah, hal terakhir ini yang membuat siswa males duluan.

Soal sekolah RSBI, prof Wid menyatakan bahwa beliau pernah dimintai tolong oleh salah satu sekolah favorit di Jogja yang akan menyelenggarakan RSBI untuk mengirimkan mahasiswa/dosen matematika UGM ke sekolah tsb untuk mengajarkan matematika. Tapi prof wid menolak dan berpendapat bahwa ‘standar internasional’ itu ada tiga aspek yang harus dipenuhi : 1.kurikulum-nya internasional, 2.Buku-nya internasional, 3.Guru-nya punya kompetensi internasional dan terakhir 4. Bahasa internasional. Di Indonesia terbalik, bahasanya dulu yang dinomor satukan, yang lain ngikut belakangan.

Terakhir, sebagai penutup sesi, Prof Wid memberi tantangan pada peserta seminar, “Siapa diantara saudara-saudara yang bisa menunjukkan kepada saya, sebuah negara maju yang tingkat penguasaan matematikanya rendah akan saya beri hadiah…!” Derr!! He he he… Tidak ada. Kata Prof Wid. Tingkat kemampuan matematika suatu negara berbanding lurus dengan tingkat kemajuan suatu negara.

Dan Indonesia? Masih jadi PR besar kita semua.

*Ditulis setelah hampir seminggu setelah seminar berlangsung*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s