Catatan 15 Oktober 2011

Bismillah… Saya berangkat setelah memastikan tidak ada yang tertinggal : Paspor, print out tiket, uang, kartu identitas, payung, dll. Oya, sehari sebelumnya saya sudah self check in di web Air asia, jadi tidak perlu mengantri lagi di Bandara (lagi pula, gak ada bagasi. Jadi, prosesnya cepet). Di bandara, saya sempatkan sholat dhuhur sambil nunggu burung besi yang akan menerbangkan saya ke Jakarta.

12.45 :  Gud Bye Jogja. Saya duduk di seat 20F. Sumpah…Dinginn. Brr…!!

Sampai di Jakarta turun di terminal 3. Saya sudah janjian sama temen, wetty, ketemuan di terminal 2. Jadilah, saya naik shuttle bus–muter–cukup lama sampai ke terminal 2. Weleh.. di Terminal 2 saya menemukan Wety berwajah pucat pasi tak berdaya duduk di sudut terminal. Dia cerita, dari tangerang tadi dia pusing di taksi.. dan hampir mabuk.  Masya Allah, bagaimana nih? sanggup gak dia menjalani tamasya dua hari kedepan?

Kami makan siang (Alhamdulillah Wety bawain makan siang buatku…:)) di Bandara, sholat ashar dan dilanjutkan ngurus imigrasi. Alhamdulillah lancar. Sama petugas imigrasi ditanyain : Mau ngapain ke Singapura? Berapa lama di Singapura? Udah. Gitu aja. Oya, pas ngisi kartu di Imigrasi saya didatangi seorang ibu yang minta tolong ngisiin kartu imigrasinya. Rupanya ibu ini kerja di Timur Tengah trus ini mau balik lagi ke sana (Ternyata, kelak saya akan ketemu lagi dengan ibu-ibu pekerja keras ini).

Oya, pas ada pemeriksaan di Imigrasi, Wety kena cekal.  Dia bawa cairan lebih dari 100ml. Jadilah hampir semua peralatan kosmetiknya disita dan ga boleh dibawa masuk ke pesawat. (Sebenarnya bisa dibawa, tapi harus masuk bagasi. Setelah dipikir dan dihitung…Wety mengikhlaskan semuanya). Ha ha ha.

Tak dinyana… pesawat delay! Kami harus nunggu sampai jam 19.30 WIB.Wety sempet tidur. Aku sendiri ngobrol sama seorang Bapak (Warga Negara Singapura yang lagi ada urusan kerja di Indonesia). Ramah banget. Dia nunjukin foto-foto hasil jepretannya di Indonesia, trus suasana Singapura pas Independence Day, trus foto maidnya yang orang Indonesia.

**
Jam 19.30 akhirnya kami terbang. (Setelah sebelumnya dapet sekotak makan malam..Alhamdulillah ada label ‘Halal’, jadi bisa menikmati makanan dengan tenang, trus duduk sebelahan sama Artis. Tadi pagi aku liat beritanya di infotainment, eh sekarang duduk disampingku. Biasa aja tuh! He he he).

**

Saya tidak memperhatikan jam berapa kami sampai di Chang I. Yang jelas sudah cukup larut. Saya tidak tahu bagaimana harus bersyukur karena Allah mengirim Uncle Amin untuk membantu kami berdua yang belum tahu apa-apa soal Singapura. Selesai urusan di Imigrasi (yang prosesnya cepet) kami keluar. Nyari gate tempat Uncle Amin nunggu. Alhamdulillah tidak sulit menemukan beliau. ‘I wear white koko’ katanya di SMS yang kami terima.

Tanpa Ba-Bi-Bu Uncle Amin ngajak kami jalan cepat (bagi saya, ‘itu’ bukan jalan cepat, tapi ‘lari’).  Beberapa saat saya baru sadar kalau ternyata kedatangan kami malam itu terlalu larut. MRT sudah hampir berhenti beroperasi. Makanya Uncle Amin lari-lari mengejar kereta terakhir. Ya sudah…Kami lari-lari tanpa sempat menikmati dan mengagumi Bandara Internasional itu… 😦

Benar saja. Sampai di stasiun, ternyata kereta terakhir sudah lewat. Saya gak ngerti Uncle Amin ngomong apa sama petugas tapi akhirnya Uncle lari-lari ke mesin tiket. Setelah pegang dua tiket, beliau menyerahkan ke kami dan meminta kami masuk. Sesaat kemudian kereta datang. Ooo ini MRT yang terkenal itu (xixixix…ndeso! Biariin!)

Di dalam kereta, Uncle baru cerita kalau kereta ini cuma sampai tanah merah. Dari tanah merah ke Bugis kami naik bus. Uncle berjanji mau ngantar kami sampai penginapan dan memastikan kami dengan selamat sampai di penginapan. Hff…! Alhamdulillah… lega rasanya.

Di stasiun Tanah Merah, kami turun dan langsung keluar ke halte bus. (Entah berapa kali naik-turun eskalator, capek banget…Kami berdua sudah ga ada tenaga untuk mikir, kami manut aja…). Nah, setelah duduk di bus  dan melihat pemandangan diluar, saya nyadar : Saya di Singapura Ooooi! Wkkkk…

Sebelum sampai Bugis, kami lewat Islamic Centre tempat Uncle Amin kerja. Sayangnya sampai pulang dua hari kemudian, kami belum sempet mampir.

*

Terus terang, kalau diminta naik bus sendirian, mungkin saya akan tersesat. Karena penunjuk jalannya tidak ada (gak kayak kalau naik kereta). Itulah kenapa setelah malam itu, saya memutuskan untuk menggunakan transportasi Kereta selama di sini.

Alhamdulillah, pukul 12 malam waktu singapura saya sampai ke penginapan. Uncle Amin sempat menawari makan malam, tapi karena kami sudah capek dan masih punya bekal beberapa helai roti (dan perut masih cukup kenyang dengan nasi dari Air Asia akibat delay tadi), kami memutuskan untuk makan seadanya.

Bersambung….

Iklan

4 thoughts on “Catatan 15 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s