Kadang-kadang, niat baik saja tidak cukup

Sebuah dialog pada sebuah siang di sebuah Senin, 18 Juli 2011 @ Perpuskota

‘Tau gak Yut, aku lagi nyadar bahwa kadang-kadang, untuk sekedar membantu orang, niat baik saja tidak cukup’
‘Maksudnya?’
‘Ceritanya, kemarin aku ke rumah teman. Niat awalku, karena aku lagi nganggur, aku mau bantuin kerjaannya. Setauku dia lagi banyak kerjaan. Paling tidak aku kan bisa ngetik!’
Kami tertawa bersama..Benar kan? Saya sangat berharap bisa memberi banyak kontribusi, tapi kalau memang yang hanya bisa kulakukan ‘cuma’ hal-hal sederhana semacam itu, gak papa kan?
‘Trus gimana mbak?’
‘Hari pertama kami cuma diskusi dan cerita.Yah…maklumlah, selama ini aku terlalu disibukkan hal-hal tidak jelas. Waktu itu aku cuma browsing dan nyimpen dataku di flasdisk. Nah,keesokan harinya, waktu aku mau mulai bantuin, baru ku tahu kalau niat baikku mendatangkan semacam musibah….’
‘Lho..Apaan mbak?’
‘Ternyata flasdisku bawa virus Yut. Komputernya 150% terinfeksi, space harddisk yang kemarin kosong mendadak terisi sama virus sampai-sampai tuh komputer gak mau hidup. gak sopan kan si virus?’
Dia tertawa. Dan sepertinya tertawa adalah virus yang gampang menular sebab dalam sekejab aku tertawa juga. setidaknya mentertawakan kecerobohanku. Namun beberapa detik kemudian saya tidak bisa tertawa lagi. Saya berempati pada teman saya yang sudah jadi ‘korban’, entah ini kali keberapa saya merepotkannya.
‘Ya begitulah, kalau saja aku jadi dia, mungkin aku akan panik luar biasa. Tapi herannya,kondisi kemarin terbalik. Dia tenang-tenang saja, aku yang panik!
Aku ingat betul, dia menyampaikan masalah virus ini seperti menyampaikan bahwa sarapan pagi sudah siap. Tidak ada kepanikan. Bahkan dia menyampaikan soal repair seakan memperbaikinya begitu mudah, padahal saya tahu sehari dua hari bahkan tidak cukup untuk menyelesaikannya. Ah Padahal setahu saya, di CPU itu tersimpan project, database bahkan mungkin sepertiga nyawanya (lebay…Biarin!)
‘Sudahlah mbak…! Pasti ada hikmah dibalik itu semua…!’
Saya nyengir.
Jelas! Sebab keyakinan soal ‘hikmah tersembunyi’ itulah yang membuat rasa bersalah saya menguap setidaknya sekitar 10 persen. Sisanya…bagaimanapun tetap ada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s