[punokawan&friend] D.i.e.n.g

Menjelang Sore

Kami disambut hawa dingin khas pegunungan. Dan yang paling penting, langit siang ini sangat cerah.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan. Aku dan gareng masuk ke sebuah guest house, tepat di samping pertigaan tempat kami turun tadi, semalam 50ribu, tanpa air panas. Aku gak mau. Trus kami ke penginapan bu Jono. Sama mas (besoknya aku baru tahu, namanya mas dwi) kami diminta naik ke atas melihat sendiri kamar yang akan ditempati, baru memutuskan untuk menginap atau tidak..oh baik sekali. Pertama-tama kami liat kamar ‘biasa’, sekamar 50ribu, ga pake air panas, ga ada Tipi. Aku ga suka (meskipun kelas Backpacker, aku tetep nyari yang pake air panas). Lalu kami masuk kamar VIP (I love this one!), ada dua bed besar, air panas, tipi, bonus sarapan pagi. 150ribu semalam. Sebenarnya kamar ini dipakai untuk berempat, tapi aku bilang sama mas-nya, “Gimana kalau ditempati berlima, tenang aja mas badan kami kecil-kecil, jadi kamar ini sangat cukup sekali bahkan tanpa extra bed.”

Alhamdulillah, Deal!!

 

Oya, sejak sampai wonosobo tadi aku sudah menghubungi wawan, teman lama yang bermukim di Batur, Dieng! Berharap bisa menjadi guide kami selama kami mengunjungi Dieng, ‘Dengan senang hati..!’ katanya. Yess!!

 

Setelah sholat dhuhur+ashar (wuih airnya kayak air Es, duingiiin!!), kami keluar kamar. Di bawah, kami berbincang dengan bapak tuan rumah. Kami bertanya soal rute kunjungan. Beliau memberi kami selembar peta, tempat pertama yang sangat mungkin kami kunjungi adalah kompleks candi arjuna. Telaga warna dan kawah besok saja. Oke…! Sore itu kami jalan kaki ke kompleks candi tanpa menyewa motor atau mobil (ngirit oy!).

Kompleks Candi Arjuna 

Setelah makan di warung dekat candi, kami memasuki kompleks candi. Sore itu loket sudah tutup sehingga kami masuk tanpa bayar. Wawan sudah menyambut kami di dekat candi, siap jadi guide sekaligus jadi fotografer dadakan. He he he J

 

Konon kabarnya kompleks candi ini termasuk candi hindu tertua di pulau Jawa dan punya kesamaan dengan kompleks candi gedong songo di Kaki Gunung Ungaran, Jawa tengah. (Aku sendiri sudah mengunjungi Gedong songo tahun kemarin. Keduanya sama-sama berada di ketinggian dan terkesan mistis. He he). Kompleks candi Arjuna terdiri dari beberapa candi kecil yang diberi nama seperti nama tokoh wayang : yang paling besar candi arjuna, ada candi sembodro, candi semar, candi gatotkaca dan candi bima.

Setelah menyalurkan hasrat narsis dan foto-foto berbagai gaya di candi, kami naik ke Museum Kaliasa. Sayangnya sore itu museum sudah tutup, padahal kata Wawan, di Museum ini diputar film tentang kebudayaan Dieng yang sangat layak dilihat. Mungkin lain kali kami akan tonton film itu.

Menjelang magrib kami turun dan melalui jalan yang sama kami pulang ke Penginapan. Dingin kian menusuk. Kami mulai kedinginan. Tapi sebelum masuk penginapan kami membeli perlengkapan pelindung tubuh, kami beli syal bertulis Dieng, 10ribu. Cring!

 

Malam

Ba’da Magrib kami memutuskan makan nasi goreng di depan penginapan. Lebih murah. Tapi aku gak kuat dengan hawa dingin ini, perutku terserang kembung. Nasi goreng tidak kuhabiskan dan aku segera masuk ke penginapan.

Di dalam penginapan, aku sempat ketemu dengan bapak pengurus penginapan. Kami nego lagi soal tour Sunrise di Bukit Sikunir. Tadi siang beliau menawari Rp. 300ribu untuk touring Dieng dengan mobil. Kalau dengan sepeda motor Rp.50,000/orang. Dan tidak bias lagi ditawar. Sebenarnya ada tiga orang yang sedang sama-sama menginap dan sama-sama backpacker kayak kami dan seharusnya kalau bergabung akan jadi lebih irit, tapi terlambat. Mereka sudah deal nyewa motor. Kami sedang mengirit, jadi cukup keberatan menyewa mobil atau motor. Lagipula sebelum pulang tadi, Wawan sempat menawarkan mobil (box) untuk dipakai mengangkut kami besok pagi. Akhirnya aku nawar bagaimana kalau kami meminjam tiga motor+1 guide. Jadi kami akan mengendarai motor sendiri. Bapak itu sempat sangsi, ‘Mbak, ini bukan Jogja lho. Lagi pula Dieng sangat dingin…!’ Aku sendiri tidak tahu bisa atau tidak, tadi langsung saja terpikir saja opsi itu. ‘Nanti saya tawarkan ke teman-teman dulu, Pak!’.

Dikamar, kami diskusi soal sunrise besok pagi. Aku sebenarnya lebih suka naik mobil, tapi ternyata Bagong dan Petruk menyanggupi untuk bawa motor. Oke baiklah. Deal!

 

Rabu, 22 Juni 2011

Ba’da Shubuh  : Memburu Sunrise 

Pagi buta kami bangun. MasyaAllah dinginnya menusuk tulang…! Aku sudah memakai dua kaos kaki, jaket, syal, sementara sarungku sudah dipakai Bagong. Aku berpartner dengan Petruk, Bagong boncengan sama Sembodro, si Gareng sama Pak Guide. Sebenarnya kami turun agak terlambat, tiga rekan kami dan sepasang bule sudah berangkat. (ha ha ha dasar suka terlambat!).

Jalur yang ditempuh ternyata cukup terjal, gelap, naik-turun dan meliuk. Belum lagi hawa dingin yang menyergap. MasyaAllah..!! Sepanjang jalan aku dan Gareng berpelukan sambil ngaji. (ha ha ha ha!!)

Alhamdulillah…setelah beberapa lama perempuan-perempuan nekat ini sampai juga di kaki bukit Sikunir dengan Selamat meskipun semalam kemampuan kami sempat diragukan. Oya, sebelum menikmati Sunrise dari kaki bukit ini kami masih harus mendaki, masih 30 menit perjalanan. Semangatttt!!

Kami mulai naik. Bagi orang yang tidak biasa olahraga (dan terbiasa tidur pagi) seperti kami, rute semacam ini cukup membuat kami ngos-ngosan, hampir saja aku menyerah di tengah jalan, tapi …apapun yang terjadi, tidak boleh menyerah!!

Subhanallah…ketika kami sampai diatas segala capek terbayar oleh hamparan lukisan alam yang cantik, apalagi ketika perlahan-lahan matahari terbit di ufuk timur. Wow! Subhanallah! Benar-benar tidak sia-sia kami menempuh perjalanan sejauh ini.

Setelah narsis berfoto-foto, kami turun. Dan ternyata aku merasa waktu tempuh ketika turun jauh lebih cepat daripada ketika naik tadi.

Dhuha   

Pulang dari Bukit Sikunir, kami mandi, makan pagi di penginapan dan siap-siap berangkat tour Dieng.

Tempat pertama yang akan kami datangi adalah kompleks Telaga warna.

 

Telaga warna

Setelah menunggu ‘gratisan’ tiket dari Gareng dan gratisan tumpangan dari Wawan, kami masuk ke kompleks telaga warna. Oh Ya, hari ini Wawan mengajak temannya, Mas Arvan untuk menemani kami mengunjungi beberapa spot di Dieng.

 

Setelah menemukan telaga warna, kami menyusuri jalan setapak berputar mencari telaga pangilon (tapi ternyata telaganya sudah tidak ada… entahlah, atau kami gagal menemukan?) trus ketemu Gua Semar, Patung Gajah Mada, Gua …apa tuh namanya…aku lupa! Trus akhirnya kami menyusuri jalan naik sampai ke DPT (Dieng Plateau Theatre). Di sepanjang jalan, kami bisa mengamati Telaga warna dari atas. Kereeen…Subhanallah…!!

Di Teater kami melihat film tentang Dataran tinggi Dieng dan aktivitas vulkanik kawahnya, termasuk meletusnya kawah …. (namanya apa??) tahun….(sekian?) yang menewaskan warga karena semburan gas beracunnya.

Tapi aku sepakat dengan film itu, Dieng itu mistis, cantik, bolehlah disebut negeri para dewa.

Seusai nonton, kami keluar dari kawasan Telaga warna menuju kawah (naik mobil box… ha ha ha… atas nama pengiritan, semua hal bisa terjadi!)

 

Kawah sikidang   

Sampai kawah aku mulai puyeng dengan bau belerang. Mual-mual. Akhirnya setelah jalan beberapa meter, aku menyerah. Teman-teman lain melanjutkan perjalanan gak tau sampai mana. Yang jelas aku Cuma dapet oleh-oleh foto kawah.

 

Sudah hampir pukul 12 ketika kami keluar dari kawasan kawah, sementara jam 1 kami harus chek out dari penginapan. Oleh karena itu kami memutuskan menyudahi touring hari ini, tempat lain—kayak sumur jalatunda, dll—belum bisa kami kunjungi, mungkin lain kali (when?? We don’t know!). Kami check out dan ‘mampir’ (he he he…kata yang tepat adalah menyempatkan datang) ke rumah Wawan, sang Guide, Fotografer dan pemberi tumpangan gratis.

 

Siang Hari

Kami mengunjungi rumah Wawan di Batur. Jadi masih menempuh setengah jam perjalanan dari Dieng. Sebelum berangkat ke rumah wawan, kami beli Carica di Penginapan. Harga normalnya 12.000,- bisa ditawar sampai 10.000,-, tapi karena tadi kami beli sekardus, isi 12 harganya 100.000,-! Jatuhnya lebih murah. Alhamdulillah…

 

Setelah makan siang gratis dan beramahtamah, kami segera berpamitan untuk pulang ke Jogja. Aku sendiri dapet dua peta Malaysia gratis dari Wawan. (Tapi beberapa minggu kemudian ketika kami ketemu di Jogja, Wawan bilang peta yang kecil statusnya pinjem, bukan dikasih…Yeee!!)

 

Jam 3 sore kami meninggalkan Dieng dengan segala kecantikan alamnya. Kami bersyukur pada Allah diberi kesempatan melihat sendiri lukisan alam disana, berterimakasih padaNya karena hingga saat ini kami masih dijaga, dan semoga tetap di jaga setelah kami sampai Jogja. Berterimakasih pada Wawan dan Mas Arvan yang sudah merelakan waktunya untuk menemani dan membantu kami selama di Dieng.

Terimakasih…J Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang berlipat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s