[punokawan and friend] Dari Cilacap hingga Dieng

Senin, 20 Juni 2011 : C. I.L.A.C.A.P!!

Pagi

Bangun pagi. Sholat Shubuh. Sembodro langsung mandi karena hari ini jadwalnya keramas. Mbak Tari bersih-bersih. Aku+ninung+mbak Pipit seperti biasa, jogging (tapi kali ini bentar thok!).

 

Habis mandi, kami laundry baju… Jadi, semua baju kotor dikumpulkan trus rame-rame dicuci pake mesin cuci. Tapi mesin cucinya sempat trouble—mungkin grogi karena kami yang cantik-cantik ini masuk ke kamar mandi bareng-bareng—dan akhirnya Sembodro dan Gareng yang nyelesaiin nyuci, giliran njemur…kita jemur baju bareng-bareng.

 

Selama di rumah Gareng, kami mengalami perbaikan gizi. Yang biasanya makan seadanya, gak ada asupan protein, dua kali Cuma sehari…Sekarang meja makan kami penuh makanan plus selalu ada ikan laut yang bisa dimakan setiap hari. Alhamdulillah…!

Kunjungan pertama kami adalah Benteng pendem di tepi pantai teluk penyu, di seberang pulau Nusa Kambangan. Kami datang menjelang siang. Mungkin karena tampang kami begitu cantik, mbak-mbak yang tugas di portal gak percaya pas kami ngaku penduduk asli. He he he Pinginnya dapet gratisan, tapi tetep gak bisa. Kami tetep bayar. Pas sampai di depan Benteng, kami masih ditarik uang parkir… Ya sudahlah..!
Masuk Benteng Bayar …. (lupa), padahal hari ini hari senin dan tertulis bahwa hari senin bayarnya gak segitu. Pas kami protes mbaknya bilang, ini musim liburan, jadi hari senin harganya sama dengan hari minggu.. Ooo Gitu??

Kami masuk benteng, waktu itu masih sepi. Kami sempet bingung, arahnya mana? Mana bentengnya? Untungnya masih ada peta dan penanda arah yang warnanya hampir memudar tapi masih bisa dibaca.

 

Ditengah perjalanan Ninung berbincang dengan seorang Bapak berkaos, bersepatu boot dan memegang sapu, semacam petugas kebersihan, yang akhirnya menawarkan diri jadi Guide kami. Alhamdulillah…! Kami diajak berkeliling sambil bercerita tentang Benteng ini dan sejarah penemuannya.

Benteng ini dibangun Belanda pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh tujuh. Jadi, sudah berumur sekitar seratus tigapuluh-an tahun. Disana kami mengunjungi ruang barak, penjara, ruang senjata, ruang amunisi, ruang untuk eksekusi, dst.  Ngeri! Aku ga bisa bayangin, sudah berapa banyak nyawa yang dibunuh di tempat ini demi kepentingan kolonial?

 

Terakhir, kami berhenti di gardu pandang, setelah sebelumnya kami mengunjungi bagian benteng yang dibangun oleh Jepang. Jadi, rupanya ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, fungsi benteng ini tetap dilanjutkan oleh Jepang, bahkan Jepang membangun ruang tersendiri yang ‘arsitektur’-nya sedikit berbeda dengan bangunan bikinan Belanda.

 

Sebelum berpisah, bapak yang tadi jadi guide kami minta ‘uang lelah’. What?? Inilah tadi yang membuatku merasa sedikit aneh, bapak ini kok baik banget ya.. Ternyataa ada udang dibalik tepung..!!

 

Saya membayangkan, seandainya benteng ini dilengkapi peta yang lebih bagus, ditambahi sedikit saja sejarah benteng bahkan mungkin miniatur benteng sebelum kependem, pasti pengunjung akan lebih mendapat gambaran yang lebih jelas. Aku sendiri pulang dengan sedikit bingung, ‘misteri’ tentang bagaimana benteng ini ditemukan, kenapa benteng ini kependem, bagaimana proses penggaliannya tetap tidak terjawab. (Si Gareng yang juga penduduk asli kota ini juga gak tahu. Weleeh!).

 

Akhirnya kami pulang. Sebenarnya aku pingin naik kapal nyebrang ke Nusa Kambangan, tapi kupikir nanti sore bisa. Jadi, siang ini gak jadi.

 

Sampai rumah, kami makan siang, nonton Dong Yi (ha ha ha Ketahuan??!!). Trus menyempatkan diri tidur siang (he he…!!). Alhamdulillah.. Bangun tidur langsung mandi, trus bersiap menikmati sunset di Pantai Teluk Penyu.

 

Sore sampai Malam

Kami berlima menikmati angin di tepi pantai teluk penyu. Senang sekali bisa melepas rindu pada laut setelah sekian lama tak melihatnya. Aku terakhir kali melihat laut setahun yang lalu, sewaktu berkunjung ke Belitung. Tapi pantai dan laut di Belitung cantiknya sampai sekarang tidak tertandingi. Ah…kenapa jadi membandingkan keduanya? Di sebelah barat, ada pulau Nusa Kambangan yang hari itu tak jadi kami kunjungi. Mungkin lain kali kami akan dikirim lagi ke pantai ini untuk piknik ke Nusa Kambangan. He he he ! Semakin lama langit makin gelap.  Kami foto-foto bentar lalu beranjak pulang.

 

Sebelum pulang, kami mampir beli oleh-oleh ikan asin pesenan Ibu. Mampir Sholat Magrib di masjid deket Alun-alun sekalian sholat Isya’ lalu memutuskan rapat koordinasi sambil duduk di Alun-alun.

Malam itu aku & Bagong sudah mulai kelaparan, dan jadilah kita berburu jagung bakar.  Kami menghampiri seorang ibu tua yang menjual jagung bakar, kupikir harganya sama antara jagung manis dan jagung biasa. Ehh ternyata tidak. Kami sempat nawar (aah dasar calon ibu-ibu!!) tapi tetep si Ibu ga mau menurunkan harga, ya sudah…demi menghemat dana, kami pesan jagung biasa (yang rasanya sama sekali gak enak, tapi harus habis…mubadzir!).

Sambil makan jagung, ditemani musik campur sari, kami membincangkan agenda besok, Jam berapa mau berangkat dari Cilacap, Rute yang ditempuh, Persiapan makanan dan Packing.

Jam 9 (atau 10 malam?) kami benar-benar pulang. Jalanan sudah lengang.  Menurutku, kalau dilihat dari volume jalan dan kecepatan pengendara kendaraan di jalanan, kehidupan di Kota ini berjalan lambat. Tidak seperti Kediri atau Jogja, menyenangkan, bukan? Tidak ada yang diburu waktu, tidak ada bunyi klakson. Damai.

 

Selasa, 21 Juni 2011

Pagi

Kami bangun sepagi yang kami bisa, shubuh, bergantian mandi, bergantian nyeterika baju kemarin, packing, Bantu ibu’e Gareng nyiapin makan pagi, sarapan dan jam 9 kami berangkat.

Terminal Cilacap

Dari rumah Gareng kami jalan kaki memburu angkot yang akan mengantar kami ke Terminal Cilacap. Alhamdulillah… untungnya kami ga pake nunggu, justru disamperi si sopir angkot, jadi bisa menghemat tenaga sekian kalori…he he bagaimanapun perjalanan masih jauh.

Di terminal Cilacap kami nunggu bis yang akan mengantar ke Purwokerto. Kata Gareng ada banyak bus jurusan purwokerto, tapi yang paling cepet yang lewat Menganti. Kami manut. Jujur, di perjalanan kali ini yang paling kukuatirkan keadaannya adalah Sembodro. Dia kan anak rumahan, dan sejak kenal sama punokawan yang kadang gak tahu malu ini dia berubah jadi penggemar jalan-jalan.

 

Bis yang kami tunggu datang juga. Alhamdulillah, kami segera naik dan menikmati perjalanan. Petruk, Sembodro, Bagong tidur selama perjalanan. Aku sendiri gak bisa tidur. Rute baru selalu membuatku tidak bisa tidur, takut kalau-kalau melewatkan sesuatu.  Dan benar saja, hampir di sepanjang perjalanan aku melihat sungai serayu meliuk seksi menemani perjalanan kami. Oooh rupanya kami sedang menyusuri sungai serayu, sungai terlebar di jawa tengah (Yang terpanjang tetap diraih Si Bengawan Solo).

 

Terminal Purwokerto

Di terminal ini kami istirahat sebentar, si Bagong, Petruk dan Sembodro ke Toilet, aku dan Gareng nunggu barang-barang sambil nanya-nanya soal perjalanan ke Wonosobo. Akhirnya kami naik bus kecil, padahal pikirku waktu itu mungkin saja ada bus yang lebih besar dan lebih cepat yang bisa mengantar kami ke Wonosobo, tapi karena diantara kami ga ada yang tahu dunia bus di daerah ini, trus kondektur bus sudah narik maksa-maksa kami masuk bus, ya sudahlah…kami naik bus kecil ini. ALhamdulillah dapat tempat duduk.

Aku ga nyangka, perjalanan kali ini lamaaaaa banget. Setelah Purwokerto kami melewati Purbalingga, trus masuk Banjar Negara. Nah Kabupaten banjar ini ternyata luas sekali, sampai-sampai aku bosan tiap kali melongok jendela benderanya masih Banjar Negara. Naik bus ini seperti kami sedang naik sumber Kencono…ha ha ha…ngebut. sport jantung, jadinya gak bisa tidur, padahal kami sudah terserang kebosanan tingkat akut. Sabar…Sabar…Sabar…!!

Mendekati wonosobo jalanan mulai naik. Yess! Sebentar lagi sampai.

Dan ketika aku sedang asyik-asyiknya menikmati wonosobo dari balik jendela, pak kondektur buru-buru menyuruh kami turun, ‘Dieng…Dieng…Dieng…!!’ Hei…kami hampir sampai di Dieng…!

 

Wonosobo

Kami yang bawaannya banyak kayak pengungsi (maklum…kan BackpackerJ) turun bus dengan terburu-buru dan langsung disambut bus kecil yang akan membawa kami naik ke Dieng. Hawa sudah mulai dingin. Seperti mimpi saja, kemarin sore kami masih bermain di pantai, sekarang kami sudah menghirup oksigen pegunungan seperti ini.

 

Gareng dan Petruk duduk di depan, di samping supir. Aku, Bagong dan Sembodro duduk di belakang. Kami berbagi dengan bapak-bapak dan ibu-ibu di belakang yang riuh. Bagong sempat berbincang dengan seorang bapak yang gak percaya kalo kami berlima—perempuan semua—sudah melakukan perjalanan dari cilacap menuju Dieng tanpa seorang laki-lakipun. He he he… Andai bapak itu tahu pekerjaan kami sebagai tentor memaksa kami melewatkan malam-malam di Bus pasti beliau akan geleng-geleng kepala.

 

Kami melewati jalan meliuk, di kanan kiri terlihat sawah yang ditumbuhi tanaman sayur, dan sejauh mata memandang kami melihat deretan pegunungan yang tertata sempurna. Wow! Subhanallah…!

Kami turun di Dieng (Tidak ada terminal Dieng, jadi jangan harap akan turun di Terminal), di sebuah pertigaan. Bus jalan terus ke kiri, sementara itu—kabarnya—kalau belok kanan kami akan sampai ke Telaga warna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s