Selepas Sebulan

10 Juli 2011

Yup! Saya sedang merayakannya.

Tepat sebulan yang lalu–10 Juni–saya meninggalkan Kediri, mengakhiri karir saya di tengah jalan. Tepat sebulan ini saya pulang, beraktivitas seperti manusia normal lain, persis seperti sebelum empat tahun yang lalu. Tepat sebulan saya menjalani hidup yang lambat, tidak dikejar waktu, dikejar deadline, dikejar hari, dikejar program, dikejar ketakutan-ketakutan dan kegelisahan. Banyak yang bertanya, kenapa kau melakukannya?
Dan seperti biasa, seperti pertanyaan-pertanyaan ‘mengapa’ lainnya, saya tidak bisa menjelaskannya. Ini terlalu sederhana untuk bisa dipahami banyak hati.

Pertama, saya mungkin terlalu bodoh. Banyak orang bilang, seharusnya saya tetap disana, melanjutkan karir, bekerja lebih keras, melayani lebih baik dan meraup uang lebih banyak. Tapi sungguh, hati saya tidak bisa melakukannya. karena bukan itu yang sebenarnya selama ini saya cari. Ah, Bolehkan saya memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan manusia lainnya?  Tapi keputusan ini bukan hasil pikiran sehari-dua hari, sebulan-dua bulan. Saya sudah memikirkan dan menimbangnya selama setahun penuh. Saya sudah menyiapkan diri menghadapi apapun yang terjadi, saya sudah menyiapkan sebuah ruang di hati untuk gelisah-gelisah yang bergejolak, saya sudah menjaga ‘ruang bahagia’ agar tidak tersentuh apapun.
Dan Alhamdulillah, sebulan ini–meskipun sempat merasa sedih–saya tetap bahagia, hidup saya lebih berwarna karena setiap hari Allah menyiapkan kejutan yang tak tertebak, apa isinya.

Bukan, saya bukan sedih karena keputusan ini, saya sedih karena saya–nampaknya–mendapat kutukan bahwa saya akan mencintai tempat yang sudah pernah saya tinggali. Saya mencintai kota itu, saya mencintai orang-orang disana, saya cinta dengan pekerjaan saya disana, jadi ketika harus meninggalkannya saya merasa sedih. Wajar bukan?

Sudahlah. Saya tidak ingin bermelankoli lagi. Mungkin saya akan sedikit merasa kesepian, mungkin ketika melihat langit, saya akan terdiam lalu ingat langit disana, mungkin ketika berada di jalan saya mendadak ingat jalanan disana, mungkin ketika makan saya akan menyebut bahwa makanan disana rasanya berbeda, mungkin ketika saya bertemu seseorang saya mendadak terserang rindu pada orang-orang disana.

Tapi, tidak masalah kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s