[Punokawan and Friend] Tour de Java #1

Part #1 : J.O.G.J.A

Sabtu 18 Juni 2011

Mbak Pipit dan Mbak Poppy yang memulai perjalanan dari Kediri sampai juga ke Prambanan. Saya menyambut mereka dengan suka cita…oooh so sweet! 9 hari tidak bertemu rasanya kangen sekali dengan mereka. Udara Prambanan yang dingin menyambut mereka yang datang dari negeri ‘hangat’…brrr! (waktu itu kami tidak sadar, dinginnya prambanan bukan apa-apa dibanding Dieng)

Ahad 19 Juni 2011

 Pagi

Kami memulai petualangan dari Jogja. Rencana awal yang akan memulai dengan tour de candi terpaksa dibatalkan gara-gara kami pingin ke Sunday Morning di UGM (hmm sekalian thawaf Ugm juga). Jadilah kami naik bus Jogja Solo trus oper naik jalur 7 turun jalan baru untuk menikmati sun-mor.

Di SunMor UGM

Mbak Pipit dapet sebuah mukena yang emang diinginkan sejak doeloe, aku sendiri, cukup puas cuci mata. Mbak Poppy juga ga dapat apa-apa.

Siang

Dari Ugm kami bertolak ke Alun-alun. Next destination : Keraton. Naik jalur 4 dari lembah UGM trus turun di nol kilometer. Tawar menawar sebentar sama tukang becak dan jadilah kami bertiga naik satu becak. He he…Mbak Pop terpaksa sedikit menderita… Nah, karena waktu sudah masuk dhuhur maka kami menunda agenda ke Keraton, memutuskan untuk sholat dulu di masjid gedhe sambil istirahat.

Setelah istirahat, sholat dan foto-foto di depan masjid layaknya turis kami bergegas menuju keraton.

Yaaahhh inilah akibat gak belajar dulu how to ke keraton, jadilah kami nyasar-nyasar. Maafkan aku teman-teman, dulu aku ke keraton pas ada sekaten, masuknya dari pintu utama… nah ternyata kalo pas hari biasa gini masuknya dari belakang. Tambah lagi mungkin karena tampang kami yang heboh, tas punggung gedhe, tentengan di kanan-kiri dan kaca mata hitam yang mengundang selera…jadilah kami kayak artis yang dikejar-kejar sama tukang becak. Jelas buk

an mau minta tanda tangan, tapi bapak becak itu menawarkan lukisan dan sewa becak ke beberapa tempat. Emang dasarnya gak tau, kami nurut aja. Satu becak lima ribu.

Tempat pertama adalah museum kereta. Masuk bayar 3.000 plus kamera 1000. Totalnya 10.000 (cring!)

Kereta

Di museum ini kita akan disuguhi kereta-kereta dari jaman pangeran diponegoro sampai kereta yang dikermatkan dan masih dipakai sampai sekarang. Untungnya kami datang bersama dengan rombongan lain yang entah darimana datangnya, dipandu tour guide (seorang abdi dalem yang hapal betul nama kereta sampai sejarahnya (ya iyalah…!) sambil sesekali menyinggung soal Sultan, soal keistimewaan Jogja dan profesinya sebagai abdi dalem keraton. Mungkin semua abdi dalem kayak beliau ya? Bangga dan bahagia meski katanya gajinya tidak seberapa.

Keluar dari museum saya ngotot pingin ke keraton. (disini letak kebodohan saya karena mau-maunya dari tadi diajak muter-muter tanpa jelas tujuannya). Bapak tukang becak bilang keraton tutup jam setengah dua. Padahal waktu itu memang sudah menunjukkan pukul setengah dua. Kami malah diajak ke toko batik, lalu ditawari ke Dagadu dan beli bakpia (uuhh…menyebalkannn!! Dan sialnya di suasana kayak gini aku baru inget apa yang diceritain Matatita di bukunya, tales from the road..! bapak tukang becak itu dapet komisi dari toko-toko yang didatangi… Dan kasus seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Jogja, ada tuh di Bangkok. Cuma disana bukan beca

k, tapi tuk-tuk. Modus-modusnya sama.

Dengan agak sedikit mengumpat karena gagal ke keraton, kami lanjut perjalanan. Kali ini kami akan langsung menuju terminal, segera bertolak ke Cilacap. Saya sendiri masih diskusi lewat SMS sama Ninung yang masih ada di jalan menuju kulon progo (dari Solo). Ninung maunya berangkat agak malam, tapi kami gak sepakat, gak enak kalo kemalaman sampai di tempat Gareng. He he he!

Dari Alun-alun kami tidak lagi naik becak. Kami jalan kaki ke Shelter Trans Jogja depan taman pintar sambil nyari warung makan. Sampai depan museum sonobudoyo kami sempat foto-foto di depan peta (hhfff….! Lama-lama aku maniak peta. Peta apapun pingin kupoto).

Map Lover

Trus kami berhenti di kios buku, aku nyari NG Traveller bekas, dapet yg 15ribuan (Sebenarnya pingin beli semuanya, tapi ingatanku soal budget memaksaku berhemat. Perjalanan yg sebenarnya belum dimulai!!).

Sampai di depan taman pintar, Sembodro dan Petruk poto-poto bentar, aku sendiri sebenarnya sibuk nyari tempat makan…Karena mereka ga minat makan dan pingin makan di terminal, akhirnya diputuskan kami segera masuk shelter.

Baiklah, kami masuk. Bayar 3×3,000 cring dan langsung naik bus. Bus-nya penuh, kami gak dapet tempat duduk. Sampai di shelter Pojok Beteng, kami turun, transit, sempet nunggu sambil poto (mengabadikan wajah kucel dan kelaparan), aku sendiri masih smsan sama Ninung. Diputuskan bahwa dia nanti nunggu di jl.wates, jadi gak perlu ke terminal. Beberapa menit kemudian bus datang, agak longgar jadi kami bisa duduk.

Pose di Shelter TransJogja
Di Shelter TransJogja

Sesampainya di Terminal, karena masih harus nunggu Ninung, kami putuskan untuk makan dulu. Kami memilih warung Soto yang nggak jelas jualan soto apa nggak. Tapi pas mbak penjual ditanya dia bilang ada Soto. Ya udah, kami bertiga pesan Soto. Hmm…!! Lamaaa…! Dan setelah dihidangkan, rasanya aneh. Lebih menyebalkan ketika kami bayar, seporsi soto yang rasanya aneh itu ternyata sepuluh ribu per porsi. Haaa??? Oh tidak!! Jadi, pelajaran hari ini : jangan pernah makan diterminal. Terutama di tempat yang tidak jelas dan meragukan. Kalau perlu, sebelum makan, tanyakan dulu harga makanannya.

Kami masuk terminal, bayar peron 3×200 rupiah, cring! Dan langsung menuju bus Efisiensi. Kebetulan ada bus yang hampir berangkat, kami naik, nyari tempat duduk, dan ternyata tempat di depan sudah penuh. Aku sendiri dapet tempat di belakang. Aku ambil dua, mesenin Bagong. Si petruk di depanku. Si Sembodro memutuskan untuk duduk agak di depan, katanya kalo di belakang banyak goncangan. Halaaah… Pas mau berangkat, pak kondektur sempat meragukan dan gak percaya, beneran gak orang yang mau pesen? Tapi buru-buru bapak itu diem karena kubilang ‘saya yang bayar pak!’.  Tuh kan?

Tahap selanjutnya adalah memastikan Bagong nunggu di pinggir jalan dan masuk Bis ini. Di pikiranku sudah ada gambaran Bagong bakal ketinggalan bus sambil teriak-teriak…ha ha ha persis kayak di film-film itu..!

Setelah nyebrang kali progo, aku mulai standby di depan. Melihat kalau-kalau Bagong ada di pinggir jalan. Untungnya menjelang pertigaan ngeplang (aku juga baru tahu hari itu kalo tempat itu bernama ngeplang) aku sudah bias melihat wujud Ninung. Alhamdulillah, akhirnya kami lengkap berempat meluncur bersama-sama ke Cilacap.

Perjalanan saya ke barat sebenarnya bisa dihitung dengan jari, jarang sekali. Makanya aku sering latah membandingkan betapa bedanya pemandangan dengan perjalanan ke timur. Disini aku lebih banyak menemukan sawah dengan tanaman padinya yang terhampar luas.

Malam jam 9an kami sampai di Cilacap. Sempet lewat N***R*N (sensored) Cilacap, Terminal dan sesuai instruksi tuan rumah, kami turun di rel suprapto. Pikiranku sudah kemana-mana, Jangan-jangan rumahe gareng di samping rel kereta api? Ooh tidak! He he he kami nunggu sebentar, aku bayangin kami bakal dijemput pake mobil. Eeeh ternyata si Gareng datang sendirian pake motor! Lho…Lho? Ternyata kami masih harus jalan, menyusuri rel kereta api beberapa meter, dan sampai! Oh Alhamdulillah… akhirnya sampai juga kami di rumah. He he he…! Sempat merasa bersalah juga, rumah Gareng kecil kayak gitu… ketambahan empat manusia gak tau malu ini, ooh betapa sesaknya? He he terpaksa sodara mbak Tari yang ketiban sial karena digusur musti tidur di luar, kamarnya ditempati aku+ninung.

Alhamdulillah… hari ini berakhir dengan damai dan selamat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s