[Balada Punokawan] Hidup yang Sempurna

Pada suatu malam yang hening–malam itu Gareng sedang tidak ditempat–sesi ‘kontemplasi diri’ pun dimulai. Kali ini tentang Hidup. Tidak ada yang lebih menarik dari itu. Kontemplasi dimulai dari cerita ngalor-ngidul gak jelas, ‘sedikit’ nggosip, ‘sedikit’ menghujat, dan ‘sedikit’ mengeluh. Pokoknya segalanya serba sedikit.

“Enak ya hidup kayak mbak itu…” kata Semar

“Kenapa?”
“Dia dibesarkan di keluarga kaya, sudah nikah, anaknya cantik-cantik, suaminya mapan,jadi kalaupun dia gak kerja gak masalah..Lha kita? hidup susah sejak dulu, bapak – ibu buruh tani, nyekolahin kita pake utang sana-utang sini, sampe sekarang belum nikah, masih harus kerja keras ngajar sampai malem….”
“Hush gak boleh gitu Mar! Istighfar..!” Kata Bagong.
“Hidup itu wang-sinawang…” Lanjutnya (Bagong berubah jadi a wise woman.. Halah opo kuwi?).

“Apa itu wang-sinawang Gong?” Tanya Petruk.
“Bahasa indonesianya, rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput kita. Kita melihat hidup orang lain lebih enak, lebih bahagia dan lebih indah dari hidup kita.” Kata Bagong
“Ho-oh..aku ngerti Gong, dan berkali-kali aku ngeliat itu, dulu pas aku sekolah aku ngeliat temenku hidupnya sempurna. cantik, pinter, juara ini itu, pinter bahasa inggris, eh keterima UGM tanpa tes. ck ck ck ck…ternyata beberapa tahun setelah pisah aku ketemu dan baru tahu kalau dia broken home, bapak-ibunya cerai, dia kagol trus kuliahnya gak selesai.” Kata si Semar panjaaangg..

“Nah itu, Mar! Aku juga punya temen kayak gitu…” Kata Bagong
” Tapi yang ini terlalu sempurna, Gong!” Kata semar ngeyel
“Trus kamu mau apa?”
“Ya gak Papa… aneh aja!”
“Mungkin kamu belum tau Mar, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Istighfar Mar.. Istighfar…”
“Astaghfirullahal’adzim…Iya ya..sutradaranya kan Allah..” Kata si semar akhirnya… “Soale aku inget kutipan dari Rumi yang kemarin tak pasang di fesbuk kemarin,  Tuhan itu memberi dua sisi kehidupan buat manusia. Bahagia-sedih, kaya-miskin, kanan-kiri,bukan apa-apa… hanya untuk menyeimbangkan hidup manusia. Seperti halnya burung, kalau dia cuma diberi satu sayap, ia tidak bisa terbang. Ia hanya bisa terbang dengan dua sayap. Kanan dan kiri. Barulah hidupnya sempurna.” Lanjut semar.

“Wis…wis…Wis bengi…!! Tidurr….!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s