?

Adalah Menuk (Revalina S. Temat), seorang muslimah yang bekerja di rumah makan china yang menjual Babi. Pemiliknya, sepasang suami istri yang digambarkan baik hati, memiliki toleransi tinggi, memisahkan alat memasak untuk Babi dan bukan, mengijinkan karyawannya Sholat, dan memberi libur hingga 5 hari saat lebaran.

Adalah Soleh (Reza Rahardian), Suami Menuk seorang pengangguran yang sangat ingin berarti buat keluarganya, sampai akhirnya Soleh mendapat pekerjaan sebagai banser NU.

Adalah Rika, Ibu dengan seorang Anak (Abi) yang baru saja bercerai dari sang suami dan pindah agama dari Islam ke Katolik. Dia menerima cacian atas pilihannya yang tak wajar, bahkan ‘tak diakui’ oleh keluarganya. Tapi ia tetap kukuh dengan pilihannya. Bisa jadi agamanya pindah, tapi keyakinannya atas esensi Tuhan tetap tak berubah. Baginya, Tuhan tetap Allah yang memiliki Asmaul Husna. Tuhan yang Rahman, Yang Rahim, Yang Malik, Yang Kudus, Yang menyelamatkan. Rika juga tidak memaksakan kepercayaannya kepada Abi, anaknya. Sang anak tetap belajar mengaji setiap sore di Masjid, tetap (diajari) berpuasa di bulan ramadhan, tetap tarawih, tetap ber-idul fitri.

Adalah Surya, seorang artis yang selama ini ‘hanya’ mendapat peran sebagai figuran atau penjahat. Seorang muslim taat yang telat membayar kos dan harus mendengarkan komentar ibu kos yang cerewet dan suka menggosip. Pada Suatu hari Rika menawari Surya ikut casting di gereja untuk sebuah pementasan pra paskah. Awalnya surya bimbang, hingga akhirnya mencoba dan jadilah ia tokoh utama : yesus.

Herman. Mantan kekasih Menuk, anak pemilik rumah makan china yang baik hati. Pada suatu hari, ketika ia berbicara dengan ibunya, mempermasalahkan Menuk yang lebih memilih pengangguran sebagai suami (soleh) hanya karena seagama, ibunya memberi nasehat, “Menuk sudah berani memilih. Sedang kau? Kau bahkan tidak berani memilih…”

Hmm…
Saya mengapresiasi Hanung dengan idenya. Bagi saya, akidah dan syariat tetap tidak bisa ditawar. Babi tetap haram. Dan saya percaya, esensi rejeki tidak hanya soal banyak atau sedikit, tapi soal Barakah dan tidak barakah.
Wallahu’alam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s