tentang hidup yang sempurna

Seorang guru sufi pernah ditanya, apa itu kesempurnaan? Barangkali, seperti orang kebanyakan, kita akan menyangka bahwa kesempurnaan adalah segala hal yang agung, mulia, mewah, indah, membahagiakan, dan seterusnya tentang segala hal yang baik. Benarkan kesempurnaan adalah tentang segala hal yang baik? “Tidak”, kata guru sufi, “Kesempurnaan adalah ketiadaan sekaligus keberadaan, kebahagiaan sekaligus kesedihan, hitam sekaligus putih… kesempurnaan adalah konfigurasi apik dari berbagai hal yang berlawanan.”

Si penanya mengerutkan dahinya, mengangkat sebelah alisnya, “Jika kesempurnaan bukan tentang kebaikan, mengapa kita menyebut Tuhan Maha Sempurna? Apakah selain Maha Baik artinya Tuhan juga Maha Tidak Baik?”

Sang guru sufi terkekeh. “Seharusnya memang begitu,” katanya.

Si penanya kembali merasa heran, amarah hampir menguasai hatinya. Batapa langcang guru sufi ini pada Tuhan, pikirnya. “Maksud Guru?” ia aknhirnya tak bisa membendung pertanyaan itu.

“Coba kau pikir,” kata sang guru sufi, “Adakah yang lebih baik dari kebaikan Tuhan?”

Si penanya menggelengkan kepala.

Guru sufi terkekeh. “Lalu, kalau di dunia ini ada orang yang paling jahat dan membuat semua orang takut, apakah kamu pikir Tuhan tidak bisa mengalahkan kejahatannya—dan membuat si penjahat itu begitu kecil?”

Si penanya terdiam.

“Tuhan melampaui segalanya, sifat-sifat baik maupun sifat-sifat yang kita anggap buruk. Itulah sebabnya mengapa pada satu nama Dia di sebut Maha Kasih, tetapi di nama lain ia disebut Maha Pemarah dengan kemurkaan yang keras. Dia melampaui semua nilai maupun sifat, itulah sebabnya mengapa Dia Maha Sempurna. Kalau manusia selalu dan terus-menerus berbuat salah, Tuhan selalu dan terus-menerus menjadi pemaaf yang penuh kasih. Itulah kesempurnaan.”

Si penanya mengangguk, “Lalu bagaimana untuk memperoleh kesempurnaan, Guru?”

“Kau harus pernah berbuat salah salah untuk menemukan hal-hal baik… Kita tidak bisa membedakan mana yang baik dari yang buruk tanpa mengetahui keduanya. Itulah sebabnya Tuhan mempersilakan kita bersalah, agar selanjutnya kita terus berjalan dengan kebaikan-kebaikan…”

source : http://fahd-isme.blogspot.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s