Tentang Waktu

(refleksi kisah sang penghuni gua)

Minggu kemarin saya berkunjung ke rumah seorang teman lama di Tulung Agung. Sekitar enam tahun yang lalu kami dipertemukan di sebuah komunitas di Yogyakarta untuk kemudian beraktifitas bersama beberapa waktu lamanya. Enam tahun tidak bertemu, sama sekali tidak ada tegur sapa, bahkan ketika saya bisa menemukan teman-teman lain di jejaring fesbuk, saya tetap tidak menemukan namanya. Dan ‘kebetulan’ beberapa bulan yang lalu saya menemukan kembali nomor hape-nya. Melewatkan hari minggu itu seperti mengulang peristiwa bulan Juli lalu, ketika (lagi-lagi) saya touring kecil-kecilan mengunjungi teman lama di Jakarta, Karang Anyar dan Tangerang. Saya ingat, dahulu kala di sebuah rumah kecil di Pogung–atau sesekali meminjam teras masjid kampus–kami bertemu sekedar ngobrol soal apapun. Mulai dari Indonesia dan Idealisme, soal kapitalisme, soal mimpi dan cita-cita yang begitu tinggi hingga tentang cinta. Dan Sekarang, ketika mereka sudah punya hidup sendiri, kami berbincang soal remeh temeh yang dulu hampir tak terjamah : anak, susu, prosesi melahirkan, bagaimana rencana pendidikan anak, rencana beli rumah, dst (meski aku sendiri belum menikah). Kalau dulu kami sendiri-sendiri, sekarang mereka sudah bersama anak dan suaminya. Wow! Ternyata Lima tahun sudah cukup untuk membuat masing-masing dari kami berubah. Benarlah kata pepatah : tidak ada yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri.

Saat seperti itu saya seperti penghuni gua dalam kisah ashabul kahfi yang sekian ratus tahun ditidurkan untuk diselamatkan dari seorang raja yang lalim. Ah tentu saja saya tidak semulia itu, diselamatkan dari kejaran seorang raja. Dan tentu saja saya tidak ‘ditidurkan’, saya benar-benar ‘tidur’. Sekarang coba bayangkan :  Lima tahun : teman saya sudah berkesempatan hijrah dari Jakarta ke Tulung Agung dan sekarang eksis dengan salon dan rias mantennya bersama seorang anak lucu dan suami yang baik hati. Lima tahun : Seorang teman sudah pernah tinggal di Palu, lalu ke Gronigen untuk lanjut S2. Lima tahun : seorang teman sudah menyelesaikan S2nya, sudah ngajar di Universitas, menikah, menjadi ibu. Lima tahun : seorang teman rela resign dari tempat kerja lalu serius mendalami bahasa Inggris. Lima tahun : teman saya yang lain sudah menempuh s2 dan sedang menekuni s3-nya. Lima tahun dan saya hanya disini, masih dengan hobi yang sama : berkhayal sambil membaca novel sebelum tidur.

Begitulah, saya seperti penghuni gua yang ‘tidur’, sibuk dalam dunia yang saya bangun sendiri, lalu terkejut ketika mengunjungi dunia diluar sana: Lima tahun. Ternyata sudah banyak yang berubah dan Saya belum kemana-mana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s