[resensi] Samita

Tasaro (Mizan)

Jadi, Allah mempertemukan saya dengan Tasaro lagi. Maka lengkap sudah tiga judul Tasaro saya khatamkan di tahun ini : Muhammad, Pitaloka dan Samita. Ketiganya punya benang merah yang sama : cinta liris yang romantis dan menggetarkan.

Tokoh utama novel ini Adalah Hui Sing (yang selanjutnya beralih nama menjadi Samita), murid perempuan laksamana Cheng Ho,utusan dinasti Ming dari tanah tiongkok dengan misi perdamaian di bumi majapahit (sodara-sodara, nama Indonesia belum lahir kala itu). Laksamana Cheng Ho mendarat di majapahit di saat-saat genting, dimasa itu terjadi persengketaan antara Raja Majapahit dan Bhre Wirabumi (mereka sama-sama putera Hayam Wuruk, hanya saja Bre Wirabumi lahir dari seorang selir dan kemudian diberi wilayah kekuasaan di Blambangan). Secara umum, novel ini mirip dengan Pitaloka : ada misteri yang coba dirakit–meski tidak secantik di Pitaloka,yaitu tentang pencurian kitab laksamana cheng-ho–yang ternyata didalangi oleh murid cheng ho sendiri, kisah cinta antara Hui Shing dan Respati dan potret majapahit setelah hayam wuruk dan Gajah mada wafat serta awal kebangkitan islam di bumi Demak.

Yang membuat novel ini ‘mirip’ dengan dua novel Tasaro yang lain adalah tokoh utama perempuan yang digambarkan begitu tangguh dan kisah cintanya yang liris dan romantis. Di Samita, Hui Shing yang terlibat cinta dan harus menunggu 4 tahun untuk kebahagiaannya,sementara Pitaloka jatuh cinta pada penolongnya yang ternyata adalah anak buah perompak. Kemudian,Laksamana Cheng Ho dan Hui Sing adalah muslim, perbincangan mereka seputar Hidup dan ajarannya tidak lepas dari kaca mata islam, ini mengingatkan saya pada perbincangan Pitaloka dan gurunya–yang juga adalah seorang muslim.

Lalu apa yang membedakan keduanya? Pertama, taburan kata-kata. Di Pitaloka, kita akan menemukan puisi-puisi yang memikat. [salah satu yang saya ingat : sesekali tengoklah surga..]. Sementara itu di Samita, kita akan menemukan taburan pitutur jawa dan makna aksara jawa yang nampaknya sudah saya lupa, kapan terakhir kali saya mempelajarinya.
/ha na ca ra ka
/da ta sa wa la
/pa dha ja ya nya
/ma ga ba tha nga

Yang menurut saya cukup mengganjal adalah penyebutan kota Surabaya dan Mojokerto. Dua kota ini terasa sangat indonesia, padahal cikal bakal indonesia baru ada tahun 1908. Sementara ketika saya membaca Gajah Mada-LKH, Surabaya disebut dengan Ujung Galuh. Hmm…Saya tidak tahu apakah ketika Hayam Wuruk wafat, Ujung Galuh kemudian berubah menjadi Surabaya. Eh kayaknya seru ya kalau Surabaya tetap menjadi Ujung Galuh. Sekedar mengingatkan bahwa Surabaya eh ujung galuh sudah ada sejak jaman Majapahit..
//hari terakhir tahun 2010//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s