Episode tak bernama

Episode ini (entah-aku tidak tahu harus menamainya apa ) terjadi begitu saja, ketika kabar ‘tidak begitu menyenangkan’ itu bertubi-tubi datang…

#1. Seorang teman nun jauh disana, yang sudah beberapa tahun ini tak kutemui,’mendadak’ terdengar dikabarkan tervonis tumor otak, harus dioperasi dengan biaya yang tak bisa dibilang sedikit. Masya Allah.. terakhir kami bertemu (entah berapa tahun yang lalu) beliau dan sang suami bercerita menggebu tentang beasiswa yang baru saja diperolehnya. Wow!! Luarbiasa semangat belajarnya..! Siapa yang bakal menduga begini akhirnya?

#2. Anak teman kerjaku, yang baru dua bulanan menghirup oksigen dunia harus bolak-balik ke rumah sakit, periksa darah, uji lab dst. Alkisah, sehari setelah kelahirannya ia belum boleh keluar dari rumah sakit tempat dia lahir karena kuku-nya biru (aku ga tau kenapa?). Trus beberapa bulan setelahnya kulit dan matanya berubah kuning. setelah cek darah di rumah sakit (lagi) Vonis terakhir sikecil terkena liver. Sekarang sedang dicek (ambil darah lagi) untuk memastikan ia tidak terkena hepatitis B. Ya Allah ini ujian kesabaran buat orang tuanya..[kejadian ini mengingatkanku pada ibuku, betapa stok kesabaran-nya tak habis-habis mendapat ujian dari Allah]

#3. Seorang teman kerja (lagi) yang bertahun menikah dan menginginkan seorang bayi diantara mereka, namun Tuhan belum kunjung memberikan. Aku memanggilnya Ummi. Sebenarnya beberapa bulan lalu beliau sudah hamil tapi harus merelakan janinnya karena ovarium beliau mengandung …(apa ya namanya? yang jelas harus dibersihkan dulu sebelum benar-benar nyaman ditinggali seorang janin).

#4. Kepala cabang yang tiap hari kuhadapi dan selalu (moga2 setelah ini tidak) sakit-sakitan. Tapi satu orang ini bandelnya luar biasa. Vonis dokter beberapa bulan yang lalu : tipes. seminggu tergeletak pasrah. sembuh sebentar trus kambuh lagi. kerja sebentar trus tepar lagi. Dibawa ke dokter maunya cuma sesekali, opname ke rumah sakit ga mau, udah tau kena tipes masih makan sambel (wooiii…harga cabe lagi mahal, 60ribu sekilo). Apa susahnya diajak sehat? sebelnya kalau lagi sakit dia seperti ga punya semangat hidup, hopeless…! maunya nyukurin tapi mendadak ga tega kalau liat dia kesakitan…!

Aku tertegun. Glek! Dhuerr! Kilasan kejadian demi kejadian yang beruntun ini membuatku sadar satu hal : kesyukuran! Ya..selama ini aku memang bandel. Sedikit sedikit mengeluh..Dan Allah seperti sedang berbicara sambil berkata gemes padaku, “Wahai anak bandel, apa ga cukup kamu melihat itu semua? apakah harus ‘sakit’ dulu untuk bisa bersyukur lalu berhenti mengeluh setiap hari?”

“Duhai Allah, Ampuni aku, aku ga mau sakit untuk menyadari bahwa semua ini begitu berharga…Begini sudah cukup, aku sudah tidak bisa menghitungnya..Gratis bernafas, gratis oksigen yang terpilah dengan sendirinya, darah yang otomatis mengalir, jantung yang otomatis berdetak, ginjal, lambung, pankreas, usus, lidah, mata, sepasang kaki yang sigap berlari dan sepotong hati yang selalu jatuh cinta.
Allah, bagaimana aku tidak mensyukuri itu semua?

Note : ujian hidup setiap orang itu berbeda. Jatuh-bangun tiap orang itu berbeda. Sebab Allah yang maha tahu benar-benar tahu kadar kemampuan kita, berbaik sangka saja padaNya. sudah, itu saja.

Iklan

2 thoughts on “Episode tak bernama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s