matematika itu…

Ini bagian paling menyebalkan (ups!) yang selalu ( atau harus?) kulalui setiap tahun : Bertemu anak-anak yang benci matematika dan dengan bahasa mereka aku harus ‘membujuk’ mereka tetap belajar matematika. Ya..Aku tahu anak-anak SMA itu benci luar biasa pada matematika,bahkan salah seorang diantara mereka sempat berikrar ‘Kalau aku jadi menteri pendidikan, akan kuhapus matematika dari kurikulum anak SMA!!’, Hua ha ha…! Impian luar biasa Nak. Dan semoga kau bertanggung jawab pada cita-citamu…!

Dilematis. Saya seperti sedang meminumkan obat anti bodi yang pahitnya kayak brotowali kepada anak sehat (setidaknya yang merasa dirinya sehat). Ya ya ya Dia memberontak tak mau meminum obat itu seraya berargumen,(ini dialog yang hanya terjadi dalam bayangan saya)
‘Ah Anda ini gimana mbak..aku ini sehat wal afiat, buat apa aku minum obat pahit itu?’
‘ini obat anti bodi, sayang…seperti jamu. demi kebaikanmu!’
‘Buat apa? Aku ga butuh anti bodi bernama matematika.. Bapak-ibuku tanpa integral bisa hidup dengan baik, bapak yang jualan cilok di depan itu ga make Diferensial buat jualan, pak presiden juga ga pake teori matriks untuk mimpin negara. Buat apa coba aku belajar kayak gini. bikin pusing aja! Lagian, Ini hidupku mbak..terserah aku mau belajar matematika atau enggak!’ week..sambil melet.
‘Hallooww!! *pake gaya fitri tropica* terserah kau mau suka matematika atau enggak, masalahnya kamu masih berstatus siswa yang akan lulus jika dan hanya jika matematika lulus. Masalahnya kamu ingin kuliah di ekonomi pembangunan–yang kabarnya banyak matematikanya. Masalahnya setelah kuliah kamu akan kerja, menghidupi anak-istri dan butuh ekstra lapang hati. Masalahnya kau adalah manusia, bukan seperangkat komputer yang tinggal di-klik lalu jalan. Kau bukan mesin yang disusun dari potongan alumunium yang direkatkan sekrup, Masalahnya hidup tidak bisa selalu memilih ‘enak’ dan ‘menyenangkan’. suatu saat kau harus melalui yang tidak enak dan tidak menyenangkan.’

‘Lho..sebentar mbak..apa hubungan hidup dan matematika?’

‘Haduuh inilah kalo sudah duluan benci sama matematika..!’
‘…yeee…’
‘Baiklah…! kau layak tahu, soal-soal matematika itu cuma latihan, melatihmu bersabar, melatihmu agar tidak letih, melatihmu tidak menyerah. melatihmu berpikir logis dengan urutan yang tertib. sebab suatu hari nanti engkau harus berpikir ‘tertib’ tentang bagaimana memberi makan anak-istrimu. Kelak, kau memang tidak akan menghitung belanja dan beras dengan integral, tapi akan kau hadapi masalah yang lebih rumit dari matematika. Kau butuh menghubungkan satu hal dengan hal lain. Kalau engkau jadi pedagang, kau gak akan pake teori turunan untuk ngitung laba, tapi kau akan butuh diferensial untuk prediksi kedepan.
kau boleh jadi pengusaha, tapi bukan pengusaha biasa. Kau boleh jadi ibu rumah tangga, tapi bukan ibu rumah tangga biasa. Kau boleh jadi apapun, tapi bukan apapun yang biasa. Dan salah satunya adalah dengan suka rela belajar matematika.
Gak papa kalau sekarang ga paham. teruslah belajar, teruslah datang ke kelas, teruslah membaca, teruslah latihan…teruslah memupuk kesabaran, teruslah bersahabat dengan ilmu, apapun itu. Sebab ilmu–seperti intuisi–tidak akan mengkhianati tuannya. suatu hari dalam salah satu episode hidupmu–kelak suatu hari nanti ketika kau butuh bantuan–ia akan membantumu..’
‘jadi?’
‘…..’
***selesai***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s