[aksioma #15] Rindu itu…

Rindu itu ketika berjam-jam menyusuri dunia maya sambil tetap terjaga dan cemas berharap akan ada sebuah nama muncul menyapa tiba-tiba.

Rindu itu berhari-hari berbincang dengan diri sendiri lalu mentranskripnya menjadi  rangkaian paragraf sepanjang duapuluhenamribudelapanratustigapuluhdua kata.

Rindu itu menghabiskan berlembar kertas untuk meracau kacau soal masa depan : sebuah rumah kecil beratap panel surya dengan rimbunan mawar yang menghiasi beranda, perpustakaan kecil di sudut sana, dua buah teropong bintang serta sebuah globe raksasa.

Rindu itu ketika pura-pura sibuk dan sibuk pura-pura. Memenuhi duapuluhempat jam dengan jadwal jalan-jalan tak bertuan. Menantang awan dan berhujan-hujan tanpa alasan agar nanti malam sibuk membalut selimut menghangatkan badan.

Rindu itu menjemput kantuk dengan tenggelam dalam tumpukan novel setebal delapanratus-an halaman.

Rindu itu terpaksa menekuri soal-soal kalkulus dan trigonometri demi menemukan nama atas frustasi yang mendadak menyergap tanpa permisi.

Rindu itu menghabiskan senja yang tak biasa, mempertahankan kesadaran sambil menatap langit:sendirian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s