kembali, tentang waktu

//Eps. 1//

Banyak orang menikah hari ini.  Eits…Yang benar, banyak yang menikah minggu ini. Sepanjang ingatanku, sudah ada 4 orang, dua sepupuku yang menikah minggu lalu (salah satunya sempat ditunda gara-gara gonjang-ganjing merapi) dan dua lainnya temanku, Agnes dan Mbak Dhiah. Dua-duanya sahabat yang dipertemukan di Mipa UGM. Dan keempat-empatnya tidak ada satupun yang kuhadiri. Satu undangan lagi sudah datang, tanggal 20 November besok, saudara misan di Klaten.

//eps. 2//

“Its no sunday for me!”

Saya sudah terserang penyakit akut : tidak bisa membedakan hari. Hari-hari bagi saya sama saja, pagi–siang–sore. Bangun tidur–makan–ngantor–ngajar sampai malam–berkutat dengan matematika–baca koran–shalat–tidur lagi. Rutinitas yang menggelikan sebenarnya.  Tidak lagi ada kartun yang selalu kutunggu di hari minggu, tidak pula ada jadwal TPA tiap senin-rabu, atau tidak lagi ada janjian spesial seperti yang dulu pernah ada.

Pada akhirnya hitungan waktu, hari dan tahun itu buat apa? Bukankah pada akhirnya usia kita tidak diukur berdasar bilangan tahun dan bulan? umur kita diukur dari tarikan nafas…

Iklan

3 thoughts on “kembali, tentang waktu

  1. Dan bila masih ada nafas yang terhempas, berarti raga masih menyatu dengan jiwa dan mesti diisi dengan yang bermanfaat untuk makhluk Allah lainnya…
    _postingan ini membuat saya menyadari bahwa bukan hanya saya saja yang mulai lupa -membedakan- hari_
    Salam kenal 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s