cuap oktober

7 Oktober 2010

Malam tadi, selepas ngajar, Seorang teman bercerita,’ Tadi siang, ada seorang perempuan datang ke kantor. Dia masih muda, ah tidak juga..dia sudah paruh baya..agak tua gitu deh. Dia datang ke kantor dan nanyain kalau-kalau ada lowongan pekerjaan disini. Aku tertegun. Antara melas dan kenyataan bahwa tidak ada lowongan pekerjaan yang dia inginkan. Nah,ujung-ujungnya dia bercerita soal dirinya. Dia bilang, dulu dia kuliah s1 di amerika. Setelah lulus, dia kerja di Jakarta. trus dia nabung lagi hingga akhirnya bisa kuliah di swiss. Malangnya, saat kuliah itu dia kena stroke. Setelah stroke dan mengalami proses penyembuhan, dia tidak punya apa-apa lagi. Dia tinggalkan Jakarta dan pulang ke rumah orang tuanya di kediri. Sekarang dia dia sangat butuh pekerjaan, tidak ada pemasukan sama sekali. Wajahnya sarat beban. Aku yakin Ri! Sebelumnya dia nampaknya berasal dari keluarga menengah. Berada.Dan sekarang dia berjalan mencari pekerjaan.’

Saya tertegun. Selain membayangkan diri sendiri berada pada posisi itu, saya membayangkan betapa kerennya orang ini, dia memilih jalan hidup yang sangat tidak biasa (Bagiku, Perempuan Indonesia yang memutuskan sekolah lebih dari 5 tahun di luar negeri dan tidak menikah sampai sekarang adalah hal yang tidak biasa. Perempuan lain pasti akan memilih menikah, menjadi ibu dan tinggal dengan nyaman di rumah yang asri bersama suami dan anak-anaknya). Ia diberi sakit lalu bisa bangkit dari sakitnya. Saya yakin, Kalau dia sabar dengan cobaan ini, pasti Allah akan memberikan balasan yang tak ternilai.

‘Aku belajar dari orang ini Ri! Betapa nasib bisa berbalik sepersekian detik’ Kata temanku lagi
‘Iya, kayak Luna Maya sama Ariel’ kataku ‘He he he…’

Hening. Saya sudah bersiap akan pulang. Tapi dugaan saya bahwa perbincangan ini akan selesai nampaknya salah. Perbincangan yang sebenarnya baru akan dimulai.

‘Oya, kamu masih belajar di Pare?’katanya mengkonfirmasi.
‘Iya. Masih’
‘Nampaknya ada obsesi kuat yang sedang ingin kau perjuangkan di Pare.’ Ini Pertanyaan atau pernyataan..
‘Aku cuma pingin belajar bahasa Inggris.’
‘Masih pingin ambil s2?’
Saya diam. menduga kemana arah perbincangan ini, dia sekedar ingin tahu atau…?
‘Tidak juga’ Kataku. cuma itu. Menjelaskan tujuan hidupku membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
‘Dulu, sebelum menikah, aku sangat ingin sekolah lagi. Ngebet. Tapi setelah menikah aku sudah tidak ingin. hmm bukan tidak mau, mau sih mau. tapi kalau budget pendidikan untuk anakku sudah save.’ Beliau ini sudah menikah, anaknya sudah dua.
Saya tersenyum.
‘Mungkin karena belum menikah aku masih ingin sekolah lagi. kalau sudah nikah dan sudah punya anak, mungkin akan berbeda ceritanya.’
‘Iya..’ Katanya akhirnya.
‘Menurutku, setiap orang mempunyai tugas kehidupan. Tugas itu Selalu ada di setiap episode hidup yang ia jalani. Dan tugas itu harus selesai. Kalau belum selesai, maka Tuhan–dengan cara apapun, bahkan kadang caranya disebut ‘musibah’ oleh manusia yang tidak tahu–akan memaksa kita menyelesaikannya. Sebab kalau itu tidak selesai, kita tidak bisa ‘naik kelas’.  Sepertiku yang sekarang sedang belajar bahasa inggris, kalau dipikir-pikir sejak lima tahun yang lalu aku ikut les di LBA Interlingua, tapi kursus waktu itu ga kuselesaikan. Dua tahun lalu aku ke Pare, tapi cuma belajar efektif sebulan, bahkan ujian Grammar I pun tidak sempat kuikuti. Entah bagaimana Tuhan akan memaksaku lagi Kalau yang ini gak selesai’ Kataku panjang lebar. Sebenarnya aku takut kualat, tapi entah kenapa, kali ini aku ingin memberitahunya bahwa jalan yang kupilih bukan jalan instan akibat tren dan populernya bahasa inggris.
‘Aku memaknai hidup seperti itu, Pak! Pasti ada yang ingin Allah ajarkan dari setiap episode hidup yang Ia berikan. Kayak sekarang, aku harus susah-susah belajar bahasa inggris, harus pulang malam setiap hari. Tapi aku yakin Dia pasti sedang mempersiapkan sesuatu. Pun juga ketika sampai sekarang saya belum menikah, pasti ada yang harus saya selesaikan sebelum saya diijinkan menikah. Dan saya harus menyelesaikan itu. Dalam hidup, Kita cuma diminta untuk bersungguh-sungguh bekerja lalu bertawakal dan bersabar. Tidak untuk menentukan hasilnya.’

‘Prinsip hidup yang bagus! Siip!’ Saya tidak tahu, ini pujian atau…?
‘Prinsip saya sederhana, Ri! Anak-istri saya dirumah bisa makan. Anak saya bisa sekolah. sehat. Itu saja.’ Lanjutnya, menutup perbincangan kami malam itu.

Saya mengamini. Itu keinginan wajar (dan memang tanggung jawab) seorang ayah terhadap anak-istrinya.

Iklan

One thought on “cuap oktober

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s