[resensi] Pitaloka, Cahaya

Pitaloka, Cahaya (a novel by Tasaro)

Sesekali Tengoklah Surga
Pada tamannya yang seluas bumi dan langit,
kau takkan pernah menemukan air mata

Setiap hati menjadi tenang
Setiap
diri menularkan kehangatan
Hal. 160 (Syair Datu Tantra untuk Sannaha)

Saya bertemu Tasaro lagi (setelah sebelumnya mengenalnya di novel Muhammad). Novel kecil bercover putih dengan gambar seorang perempuan pendekar berambut panjang ini saya temukan di perpustakaan kota kediri beberapa waktu lalu.

Seperti yang bisa ditebak, Pitaloka disini adalah Pitaloka putri kerjaan pasundan yang setengah mati berusaha ditaklukan Gajah Mada,sang maha patih, demi terbentuknya Majapahit Raya (he he he meminjam istilah Indonesia Raya). Dan siasat terakhir yang dikeluarkan Majapahit adalah dengan melangsungkan pernikahan antara Putri Dyah Pitaloka dan Raja Hayam Wuruk, sayangnya pernikahan ini berakhir dramatis dengan meletusnya perang Bubat. Langit Kresna Hariyadi (LKH) menceritakan Perang Bubat dengan apik di sekuel kelima Gajah Mada, Perang Bubat. Menurut versi LKH, perang Bubat ini meletus karena ‘provokasi’ seorang provokator, bukan karena Gajah Mada benar-benar ingin berperang, sebab–kabarnya–sang Raja, Hayam Wuruk sudah terlanjur jatuh hati pada sang putri. Selain LKH, Pitaloka sudah pernah dihidupkan oleh pak Akmal dengan novel berjudul sama, Pitaloka. (Sayangnya, saya belum baca Pitaloka-nya pak Akmal).

Baiklah saudara-saudari, pada akhirnya saya terkejut dengan Pitaloka ‘yang ini’. Ini sama sekali tidak bercerita tentang perang Bubat. Ia justru bercerita tentang sisi kepahlawanan Pitaloka sebelum Pitaloka disunting Hayam Wuruk. Pitaloka disini bukan hanya seorang putri raja Pasundan yang lemah lembut, baik hati, tidak sombong. Pitaloka disini adalah pitaloka yang menguasai ilmu pedang, ilmu siasat, sastra dan filsafat. Pitaloka disini adalah Pitaloka yang sangat fasih melafalkan syair suci diantara jurus-jurus pedangnya. Saya sungguh takjub saat mendapati syair suci itu adalah penggalan surat Dhuha, penggalan surat Syam dan ayat-ayat lain dari Quran.

Perhatikanlah matahari dan cahaya terangnya

dan siang, apabila menampakkan dia

dan langit, serta Yang mendirikan dia
dan bumi, serta Yang menghamparkannya
dan satu jiwa, serta yang Menyempurnakannya

(sajak Chandrabagha diambil dari kitab ajaran mulia). Hal 178

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s