[Resensi] Muhammad, Lelaki penggenggam hujan

Tempat : Toga Mas Yogyakarta Jl. Affandi
Tanggal: 15 September 2010
Jam : Menjelang Maghrib

Akhirnya saya memilih novel ini setelah membandingkannya dengan dua buku Fahd Jibran yang baru terbit (Rahim dan … satu judul yang saya lupa, berkisah tentang Muhammad juga). Jujur saja, ini lebih karena penasaran saya dengan Tasaro. Sebelum ini saya hanya membaca resensi Galaksi Kinanthi yang banyak orang dibilang bagus. Hmm…baiklah, kita lihat nanti.

Kesan pertama : berat! Saya yakin, Tasaro menulis ini dengan sangat hati-hati sekali. Tidak mudah memadu kisah Nabi seagung Muhammad dengan perjalanan tokoh fiksi (kashva, masya, astu, xerses, dll) yang entah ada atau tiada. Satu hal yang menurut saya menarik adalah muara novel yang diletakkan di awal. Waktu itu Abi Thalib membawa Muhammad kecil berdagang ke Syam, kemudian di tengah perjalanan ia bertemu dengan pendeta Bahira–seorang ahli kitab yang kerap membacai ramalan kitab tentang kedatangan nabi akhir zaman. Dialog kecil yang sempat terjadi antara Bahira dan Abi Thalib tentang riwayat Muhammad menegaskan ramalan di kitab-kitab sebelumnya bahwa manusia agung itu benar-benar telah diturunkan. Pertemuan itu yang akhirnya dituliskan Bahira dalam sebuah surat yang ‘akan’ dikirimkan pada Waraqah, ahli kitab di Mekah yang juga masih bersaudara dengan Khadijah. Surat itu tak sempat dikirimkan namun kemudian ditemukan oleh seorang pemuda cerdas bernama Kashva. Perjalanan Kasva yang ingin memurnikah ajaran zardust, kisah cintanya dengan Astu dan diskusi panjangnya dengan El membuat saya tak bisa berhenti membaca hingga benar-benar sampai halaman penghabisan.

Tasaro dengan apik menggambarkan perjalanan spiritual Kashva melintasi persia, India sampai Tibet hingga tokoh itu seolah benar-benar ada. Kisah ini diramu dengan cerita tentang Ruzabah yang sangat mirip dengan kisah salman al farisi (nantilah saya tanya sama Tasaro, apakah Salman adalah Ruzabah?) dan pengejaran mati-matian raja khosrou kepada pengikutnya yang membangkang (murtad dari agama zardust). Diskusi-diskusi tentang ramalan datangnya Muhammad (dalam kitab lain disebut Astvat-ereta) disajikan dalam bahasa yang cerdas (seolah-olah Tasaro menguasai isi kitab-kitab berbahasa aneh itu…)

Sayangnya, cerita pencarian kashva tidak diakhiri dengan sempurna. entahlah, mungkin Tasaro sengaja memilih akhir yang mengambang semacam ini untuk menyerahkan kesimpulan kepada pembaca (haiah…). Kisah Elyas, rencana diskusi kashva dengan biksu di Tibet, kisah penduduk Gathas setelah ditumpas khasrou, lalu apakah kashva benar-benar akan bertemu dengan lelaki penggenggam hujan juga tidak disajikan di akhirnya. Terasa mengganjal, sebab itu salah satu hal yang membuat saya sabar menuntaskan novel ini hingga akhirnya.

Namun bagaimanapun itu, setelah membaca novel ini, saya jadi lebih mencintai lelaki itu, merindukannya dan dalam doa saya berharap suatu hari nanti saya akan bertemu dengannya. Rasulullah salallahu’alayhi wassalam.

Iklan

3 thoughts on “[Resensi] Muhammad, Lelaki penggenggam hujan

  1. saya membaca buku dan memilikinya setahun yang lalu….”penafsiran saya tentang si lelaki penggengam hujan adalag Nabi Muhammad karena,hujan datang dari langit, maka ia menqiyaskan hujan equal wahyu…awalnya sy menduga bahwa toko kashva sangat mirip dengan karakter “salman al farisi”org parsi yang berkelana mencari nabi hingga sampailah di dataran arabia….overall….novel ini memukau….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s