[Film] Sang Pencerah

Tempat : 21 Amplas Yogyakarta
Tanggal: 15 September 2010
Jam : setengah sebelas

Padat. Tapi masih belum mengalahkan kepadatan antrian laskar pelangi beberapa tahun yang lalu. Saya menyusul Adib yang sudah mengantri di depan. Entah karena libur lebaran yang masih tersisa, karena adanya promo Rp.10,000 atau mungkin karena film sang pencerah yang mengambil setting Jogja 1883 maka hari ini 21 Jogja begitu dipadati penonton. Hmm…saya penasaran, apa sesungguhnya yang disajikan Hanung kali ini.

Film ini berkisah tentang episode hidup muhammad darwis–nama kecil Ahmad Dahlan–di Kauman, Yogyakarta. Darwis (yang diperankan oleh Ihsan) tampil sebagai seorang pemuda yang berani, bersemangat menuntut ilmu sampai akhirnya Dahlan kecil menuntut ilmu ke Mekkah, sekaligus menunaikan ibadah haji. Setelah mendalami ilmu agama di Mekkah, Darwis kembali dengan nama Ahmad Dahlan, lalu menjadi khatib di masjid agung Yogyakarta. Di tengah perjalanan dakwahnya itulah Ahmad Dahlan melakukan beberapa hal baru, mengkritik kiblat masjid tidak tepat, menyarankan untuk tidak melakukan tujuh harian, yasinan, tahlilan, dst ketika seseorang secara ekonomi tidak mampu melakukannya. “Pembaruan” yang dilakukan Ahmad Dahlan ini dianggap ‘aneh’ oleh masyarakat dan ulama di wilayah Kauman, apalagi setelah Ahmad Dahlan mendirikan madrasah diniyah islamiyah di rumahnya dengan menggunakan meja-kursi seperti sekolah belanda di jaman itu. Sekolah Ahmad Dahlan dianggap aneh sebab biasanya madrasah islamiyah menggunakan tikar, dan meja-kursi dianggap sebagai bid’ah karena dipakai (dan dibuat oleh Belanda).

Yang cukup menarik (dan perlu didalami lagi, terus terang saya belum membaca lagi literatur sejarah soal ini) adalah keterkaitan Budi Utomo dalam pembentukan Muhammadiyah. Budi Utomo berdiri tahun 1908 sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial, terutama bidang pendidikan dan kesehatan. sementara Muhammadiyah berdiri 1912 (4 tahun setelah Budi Utomo) dan bergerak di bidang yang sama. justru saya baru tahu dari film itu bahwa sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan terlebih dulu menjadi anggota Budi Utomo. Dan di film itu disebutkan bahwa Budi Utomo membantu Muhammadiyah mendirikan organisasi dengan syarat anggota Muhammadiyah harus menjadi anggota Budi Utomo. Tokoh Budi Utomo yang ditampilkan di film ini adalah Dokter Wahidin Sudiro Husodo yang kelak akan bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantoro akan mendirikan Indische Partij.

Kami (aku, Adib, Mas Saleh) berdiskusi kecil seusai melihat film ini, ada beberapa ‘keganjilan’ yang kami tangkap, selain keganjilanku soal hubungan Budi Utomo dan Muhammadiyah, mas Saleh bilang tulisan Al Manar di film itu salah. ( Sepulang dari ke tanah suci, Ahmad Dahlan membawa buletin Al Manar), lalu Adib bilang, ‘Mosok anaknya Ahmad Dahlan tidak beranjak dewasa, bertahun-tahun tetap saja kecil segitu…’ Oya satu lagi, saya melihat Zaskia tidak tepat memerankan Nyi Dahlan, bukan apa-apa, cuma dialek jawa-nya ganjil di telinga. (he he he maaf Om Hanung…:P piisss!)

Selain cerita, salah satu kekuatan film ini terletak di Setting Yogyakarta tahun 1883 : masjid agung, keraton, Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Alun-alun Utara, Plengkung Gading dan Stasiun lempuyangan. (Btw kali pertama melihat saya langsung mengenali ‘Stasiun Tugu’ di film itu diambil di Ambarawa^_^”. Kata Adib itu benar, syutingnya di Ambarawa). Kita benar-benar akan dibawa ke masa itu, 1883 hingga awal 1900-an.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s