Antara Al Farabi, Al Ghazali, dan Al Shirazi

[Study of the book by Osman Bakar : Classification of Knowledge in Islam]

Buku Classification of Knowledge in Islam ini merupakan disertasi Osman Bakar di Departement of Religion, Temple University, Philadelphia tahun 1988. Buku yang pernah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan ini memaparkan klasifikasi ilmu oleh tiga ilmuwan muslim ternama, Al Farabi (258/870-339/950) Al Ghazali (450/1058-505/1111) dan Qutb al-Din al-Shirazi (634/1236-710/1311). Pertanyaan selanjutnya adalah kenapa ketiga ilmuwan itu yang dipilih?

Pertama, Masing-masing ilmuwan tersebut adalah seorang penggagas. Al Farabi –yang digelari ‘The second Teacher'(al-muallim al-Thani)–pendiri sekolah filsafat islam berjuluk the mashsha’i (peripatetic) school of philosopher-scientists, klasifikasi yang telah dibuatnya menjadi model untuk hampir semua generasi sesudahnya. Al Ghazali adalah seorang ulama ahli Kalam, Hukum (fiqh) dan Sufi. Sementara Quthb Al Shirazi mewakili ishraqi school of philosophy.

Alasan kedua adalah dengan melihat periode peradaban islam dimana ketiga ilmuwan itu hidup. Al Farabi hidup pada masa awal dimulainya aktivitas pembelajaran ilmu filosofi oleh ilmuwan muslim, termasuk matematika dan ilmu alam. Al Ghazali yang hidup dua abad kemudian memegang peran penting sebab saat itu di dunia islam sedang terjadi beberapa perdebatan :  intelektual antara falsafah dan kalam, politik antara Suni dan syiah dan spiritual antara Sufi dan fiqh. Sementara itu Quthb al Shirazi adalah saksi kejatuhan Baghdad dan penghancuran pusat intelektual dan agama di wilayah timur oleh bansa Mongol. Tak lama setelah peristiwa tragis itu terdapat perkembangan baru dalam ilmu filsafat. Dan Quthb al Din bersama gurunya, Nasir al-Din at Tusi adalah garda depan pergerakan intelektual yang menghidupkan kembali ilmu itu.

Note :

Proses belajar otodidak saya ini bermula dari kegelisahan hati saya melihat pendidikan di Indonesia. Sekolah-sekolah umum (Dasar hingga menengah) menyajikan sekolah seperti sebuah kue yang tidak menarik namun wajib di’makan’ oleh anak-anak berusia 6 hingga 18 tahun. (Bayangkan, 12 tahun!) Dan ini berlaku untuk seluruh anak di ujung barat hingga ujung timur indonesia. Tidak hanya itu, penyamarataan ini juga berimbas pada penyeragaman UAN sebagai standar kelulusan. Ironisnya lagi, Setelah 65 tahun merdeka, negara ini tak juga memuhasabahi proses pendidikannya, korupsi merajalela, video porno makin marak, ketidakadilan-pun makin menjadi pemandangan umum. Saya punya keyakinan, ada yang perlu diperbaiki pada pendidikan Indonesia.

Kenyataan yang terjadi di sekolah umum itu sempat (dengan sengaja) saya benturkan dengan model pembelajaran di sebuah sekolah ‘alternatif’ di Salatiga. Qaryah Thayyibah. Sekolah ini melakukan perlawanan terhadap ‘kapitalisme’ dengan melakukan pembebasan pada anak, bebas tidak berseragam, bebas tidak duduk di kelas dan bebas mau belajar apa. Meski belum sepenuhnya yakin, saya melihat model pendidikan semacam ini mengandung ancaman akan tereduksinya hakikat ilmu sebagai sesuatu yang harusnya di’hormati’.

Ketika saya tidak lagi punya kiblat itulah akhirnya saya kembali pada Islam. Saya membongkar kembali catatan saya tentang kekhalifahan islam yang ‘sempat’ menoreh tinta emas pada peradaban dunia. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana ilmuwan muslim dahulu belajar, menghabiskan masa sekolahnya, melakukan ‘sesuatu’ yang berguna bagi ummat namun tetap menjadi pribadi yang takut dengan TuhanNya. Dan bagaimana jika manusia abad 21 mengadopsinya? Masih layakkah? Masih bisakah?

Saya sangat berharap saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa sebenarnya ilmu dasar yang se’harus’nya dipelajari anak-anak kita? perlukah mereka belajar semua hal (seperti yang disajikan di sekolah umum) atau (jangan-jangan) mereka tidak butuh belajar itu semua? Perlukah–misalnya–siswa kelas 12 IPS belajar Integral, belajar trigonometri sementara (secara langsung) ilmu itu tidak akan ditemui dalam kehidupan sehari-hari? Perlukah seorang anak belajar teori fluida sementara pada akhirnya ia ingin jadi seorang desainer? Wallahu’alam!

Kediri, 18 Ramadhan (to be continued)

Iklan

4 thoughts on “Antara Al Farabi, Al Ghazali, dan Al Shirazi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s