Merayakan kematian

Sungguh, kadang kala kau tidak butuh sebotol racun, sebilah pisau tajam bahkan guilotine untuk mengakhiri hidupmu. Kau hanya butuh satu hal : rutinitas. Dan ini aksioma ketigabelas tentang kematian: rutinitas adalah titisan izrail! Bukan untuk mengambil nyawamu, tapi untuk menjemput jiwamu. Dan tidak berjiwa sama saja dengan kehilangan nyawa. Bahkan lebih parah. Kau hidup tapi tak sungguh-sungguh hidup. Kau bernyawa namun kau tidak lagi jadi manusia seutuhnya. Kau ada namun jiwamu tiada.

Maka kali ini, tolong siapkan untukku sebuah keranda, seperangkat karangan bunga dan alunan merdu doa-doa untuk mengantarkan jiwa ini lelap dalam tidur panjangnya. Tidak perlu nisan tertulis nama, cukup penanda berupa perdu berbunga kecil sekedar saja! Mungkin tak akan semegah Taj Mahal atau Piramida namun semoga ia bisa menjadi tempat berteduh para pejalan–pun serangga-serangga–yang kelelahan dalam perjalanan menemukan hidup dan cintanya.

Semoga!

Kediri, 20 Juli 2010

–Detik-detik menuju perayaan ke’mati’an– Innalillahi wa Inna Ilayhi Roji’un…

Iklan

One thought on “Merayakan kematian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s