Jogja-Belitung (Part 1)

//1//

Bekasi : Riuh!

02 Juli 2010 Bekasi Timur

Saya menghirup oksigen pesisir ibukota. Bekasi. Tentu dengan riuhnya yang khas dan sinar mataharinya yang menyengat, meski bagaimanapun saya berkilah, matahari ini sesungguhnya sama dengan matahari di manapun di ujung bumi. Ah..Mendadak saya rindu dengan matahari yang membiaskan birunya langit Salatiga. Ini aksioma keenam itu : Bermil-mil jauhnya melakukan perjalanan, hanya untuk tahu bahwa sesuatu itu selalu di hatimu. Dasar manusia!!

Perjalanan semalam yang cukup nyaman masih menyisakan sedikit lelah di urat leher dan pinggang. Mau tak mau saya tertawa mengingati ini, bagaimanapun nawaitu backpacker tidak membuat saya rela bersusah-susah pergi ke kota ini dengan se’ada’nya. Saya tetap naik bus eksekutif Rosalia Indah yang nyaman, transit makan malam dengan sepotong ayam dan tetap menenteng netbook untuk nulis. Siapa bilang Backpacker identik dengan kere? (dan pernyataan terakhir akan terbukti di bagian lain kisah ini) he he Tadi pagi jalanan macet di sukamandi. Alhamdulillah, awalnya saya tidak begitu terganggu dengan kemacetan itu, saya cukup nyaman meringkuk dibalik selimut. Namun perlahan saya bangun  dan melihat situasi diluar bus dari jendela, ternyata cukup banyak mobil yang senasib dengan bus kami. Ada sejumlah truk, mobil pribadi, hingga mobil tangki pertamina. Saya memperhatikan bapak-bapak itu. Saya menaruh sedalam hormat pada mereka, tidak peduli karena tidak ada pilihan lain atau karena terpaksa, atau karena apapun, yang pasti semangat berjuang mereka tinggi.

//2//

Macetnya Jakarta

Andai Einstein masih hidup, mungkin ia akan bersorak sorai, tertawa dan terbahak-bahak melihat kemacetan Jakarta. He he he …! Eh gak Nding..salah! Ia  bukan tertawa, lebih tepat ia akan menangis. (Nah lhoo…?)  Betapa tidak..Di kota ini ia tidak membutuhkan hitungan rumit matematis untuk menjelaskan relativitas waktu. Di kota ini, Berjam-jam waktu dihabiskan di jalan. Rumus standar gerak lurus s=v.t juga tidak berlaku (ya ya ya ilmuwan dulu merumuskan fungsi jarak tanpa melihat faktor macet dan factor manusiawi hasil modernitas yang lain).

//3//

Sabtu, 03 Juli 2010 Bandara Internasional Soekarno Hatta

Dunia itu seperti terminal, seperti airport, seperti stasiun. Kita datang, sejenak tertawa mengenang perjalanan sebelumnya, menangis mengingati nasib, terkagum, kemudian dengan sadar atau tidak kita akan meninggalkan tempat itu. Pulang!

Dunia itu singgah, sayang!

//4//

Antara Jakarta-Tanjung Pandan

Akhirnya saya memasuki burung besi nan angkuh itu. Pramugari-pramugari berwajah hampir ‘seragam’ yang menyambut kami dengan ucapan selamat datang mengingatkan saya pada manekin-manekin yang dipajang di etalase toko sepanjang malioboro. Postur tubuh tinggi, langsing, potongan rambut ‘hampir’ sama dan  senyum yang hampir serupa.. Ini pertanyaan retoris ketiga belas yang kadang tidak berguna ditanyakan, kenapa sih kebanyakan manusia menyukai keseragaman dan keteraturan? Ha ha ha

Kami menjalani segala ‘prosesi’ itu : mendengarkan instruksi pramugari, pasang seat belt,  bersiap-siap jika terjadi sesuatu dan yang paling penting : Berdoa (Allah, aku belum menikah maka selamatkan kami dalam perjalanan ini hingga mendarat di Tanjung Pandan, Amin..)

Perlahan-lahan ia menderu, lalu berputar mengambil jarak landasan sebelum akhirnya meninggalkan bumi lalu melayang seperti burung. Menurut teori matematis, untuk bisa meluncur dengan mulus dan stabil, pesawat ini butuh landasan sekian meter, kecepatan sekian dan sudut luncur sekian derajat (hi hi hi…ini sih teoriku sendiri). Tapi kalau saya pikir lagi sungguh benar-benar gila makhluk bernama manusia itu, tidak cuma darat, laut dan bawah tanah, udarapun mampu dijelajahi dan ditaklukan seperti ini.

Tanjung Pandan….Here I’m!Berpose dulu Ah…!!

Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan

Iklan

6 thoughts on “Jogja-Belitung (Part 1)

  1. Berdoa (Allah, aku belum menikah maka selamatkan kami dalam perjalanan ini hingga mendarat di Tanjung Pandan, Amin..)

    hahaha…..jd kapan?:p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s