‘Kelas Ajaib’ku

[Catatan akhir perjalananku di Qaryah Thayyibah]

Coba cari di seluruh sekolah dari  ujung timur hingga ujung barat Indonesia, adakah kelas yang bertahan hanya dengan 4 murid dan kegiatan mereka  tetap berjalan?? Saya ragu kalau ada sekolah formal semacam itu, saya ragu kalau masih ada guru yang bersedia mengajar hanya 4 murid. Lha wong  Laskar pelangi saja–dalam novel Andrea Hirata–punya 10 murid. Ini hanya 4 murid saja?

Tapi anda bisa menemukan kelas itu di Kali Bening.  Anda bisa menemui mereka setiap jam 7 pagi dari Senin hingga Sabtu.  Saksikanlah bahwa anak-anak ini tak larut dalam pikuknya dunia, mereka punya semangat belajar tinggi–tidak untuk mencari ijazah bahkan tidak untuk secuil nilai matematis. Mereka belajar dari keinginan mereka sendiri.

Dulunya ada 9 anak di kelas ini. Tapi seiring berjalannya waktu, satu per satu diantara mereka lepas mencari tempatnya sendiri-sendiri. Tinggallah mereka berempat, belajar bersama dengan gaya khas alami anak-anak yang sering membuat saya terpesona lalu jatuh cinta. Ada Fani yang melankolis, Isma yang ekspresif, Een yang suka menyendiri dan Adi (satu-satunya laki-laki) yang tidak suka matematika. Saya mencintai mereka. Sungguh!

***

Dan Jumat kemarin saya pamit.   Saya hampir menangis meninggalkan mereka :  anak-anak yang belajar untuk diri mereka sendiri, tidak karena orang tua, tidak mengejar prestise, tidak mengejar ijazah, bahkan tidak mengejar nilai!

Saya banyak belajar dari mereka.

Iklan

6 thoughts on “‘Kelas Ajaib’ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s