Martir!

Tiba-tiba saya ingat Qarun. Iya.. Qarun! Salah seorang kerabat Musa yang kabarnya teramat kaya raya namun karena ia lupa bersyukur, Allah kemudian memberikan adzab dengan membalikkan bumi tempatnya berpijak. Lenyaplah hartanya, lenyap pula  eksistensinya.

Saya jadi berpikir, apakah ia benar-benar memilih takdir seperti itu ataukah ia hanya sekedar menjalani jalan yang ada–Tanpa berhak memilih?

Ah, membicarakan takdir seperti ini seperti menelusuri grafik suku banyak yang tak berujung. Kadang-kadang saya tidak tahu pasti apakah saya benar-benar memilih jalan ataukah saya telah ditakdirkan memilih jalan ini? Pernyataan bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini bernegasi dengan pernyataan bahwa manusia itu bebas memilih. Kalau bebas memilih saya akan memilih tidak mengalami kebetulan-kebetulan, biar acak saja jadinya.

Saya jadi ingat perbincangan saya dengan seseorang Beberapa tahun yang lalu di sebuah sore. Waktu itu dia sedang bercerita tentang cinta, hati, jodoh dan takdir.
“Patah hati itu seharusnya tidak ada.” katanya
“kenapa?” Tanya saya
“Jangan menangisi sesuatu yang nyata-nyata bukan takdir mu. kalau memang jodoh, pasti ketemu.”
saya mengangguk. Bukan karena paham, tapi saya yang masih tertatih belajar sedang memahami makna kata-kata itu.
“Segala sesuatu sudah Di takdirkan!” katanya lagi
“Tapi, Bukankah manusia bisa memilih jalannya?” kata saya menyanggah. Dia tersenyum.
“Adanya pilihan itu bagian dari takdir juga kan?” Tanyanya beretorika!
Sumpah! Sejak saat itu saya seperti manusia bodoh jika diajak bicara soal takdir..

Ini jugalah yang terjadi beberapa bulan terakhir. Logika matematika yang saya pelajari bertahun-tahun tidak bisa membantu saya memahami kenapa saya di’takdir’kan menjalani hidup aneh macam ini. Mengalami deja vu berkali-kali, bertemu orang-orang berkarakter sama, sampai-sampai kadang saya bertanya,”kenapa harus saya yang menjalani peran ini? kenapa harus sekarang? kenapa tidak dua tahun yang lalu?” Pada tahap tertentu–seperti yang sering saya bilang kepada teman-teman–kadang-kadang saya merasa seperti seorang Alien yang sedang tersesat di Bumi. Saya memang berujud manusia, tapi jiwa saya tidak seperti manusia kebanyakan lainnya.

Maka saya kembali mengenang Qarun. Sudah sekian ribu tahun sejak ia hidup. Awalnya bukan apa-apa, kemudian kaya raya dan dipuja, lalu kini ia dicaci. namun kali ini saya ingin mengenangnya sebagai seorang martir yang harus ada (baca : berkorban) demi keberlangsungan hidup manusia. Sebab dunia adalah wilayah dengan dua sisi, kebaikan kejahatan, suka duka, pujian cacian, baik buruk. Maka ketika ada yang dipuja harus ada juga yang dicaci. harus ada manusia yang membuktikan bahwa kekayaan tanpa rasa syukur adalah kecelakaan. Dan karena pembuktian itu tidak bisa dilakukan malaikat atau Jin, maka diciptalah Qarun untuk melakukan tugas ini.
Ah manusia..!

Iklan

5 thoughts on “Martir!

  1. hummm, aku jd inget pembahasan di buku kisah cinta sang sufi mb,
    kalau disana dijelaskan bahwa,
    semua hal yang bersangkutan antara ketidakpastian dan kepastian hanya ada:
    …sebuah keberanian untuk menjalani, sepenuh hati, apa adanya…

    kalau masalah korban dan dikorbankan, aku jg blm ngerti…yang jelas semua manusia, adalah seorang khalifah, yang akan di berikan beberapa peran, yang memang pantas dia mainkan.

  2. tentang takdi, sy rasa, memahami ttg ‘zaman’/’waktu’ akan lbh mudah memahami ‘takdir’, mb
    sekalian, izin untuk di taut 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s