Aksioma Rindu

satu :
Mula-mula kau tak sadari adanya. Padahal ia menunggumu di ujung lengang jalan yang kau lalui tiap waktu, mengintip tawamu dibalik awan yang berarak pelan-pelan lalu mulai menyapamu pada detik yang sering terlambat kau catat.

Dua :
Rasakan saja ketika mendadak Ia menyergap memorimu seperti kabut yang kerap turun tanpa cakap.Atau ketika Ia menjelma kenangan usang tentang terang yang enggan kau buang meski almarimu penuh dan kertas-kertas itu mulai kusam. Bahkan Ialah alunan doa serupa biola yang mendentingkan hatimu hingga menarilah ia,diam-diam

Tiga :
Maka pada sebuah senja yang hujan ia menungguimu bersama angin yang menikahi dingin. Awalnya Kau hanya melihat dari jendela, lalu kau jemput ia dengan payungmu,kau ajak dia minum secangkir teh hangat di beranda. Hanya kalian berdua.

Mendadak menjadilah hatimu sehelai daun yang melayang terbang.
Jatuh.
Tanpa sempat mengaduh.

[Salatiga, april 2010]

Setelah hampir satu setengah tahun vakum dari tulis-menulis puisi, akhir-akhir ini saya mulai kembali menulis. Saya bersyukur untuk hal ini, sebab ini berkah dari Allah. Namun mendadak saya terkejut, sebab puisi-puisi itu liris, syahdu dan berkaitan dengan hati. Hampir semuanya. Ia begitu saja lahir, saya sama sekali tidak mereka-reka.

Ada yang tidak saya pahami dalam proses ini. Ketika saya tidak sedang merasa apa-apa, mendadak saya lancar menulis tentang patah hati. Ketika saya merasa hati saya patah berkeping dan berdarah-darah, tiba-tiba saya menulis ‘rindu’, seperti puisi diatas. Entah, saya sendiri tidak paham, saya sedang merindukan apa? Merindukan siapa?

Belakangan saya paham, puisi adalah kelembutan. Hari-hari ketika saya melupakan puisi adalah hari-hari ketika saya sedang melakukan kekerasan kepada hati saya. Buat apa? Agar saya bisa terus bertahan hidup. Dan saya bertahan, sampai sekarang.

Duh kok malah curhat.

He he he Maklumlah, lama gak nulis 🙂

Iklan

2 thoughts on “Aksioma Rindu

  1. xixixi…pas baca bagian ‘hari-hari ketika saya sedang melakukan kekerasan kepada hati saya. Buat apa? Agar saya bisa terus bertahan hidup. Dan saya bertahan, sampai sekarang…’ jadi inget kata-kata yang sempat bertahan lama diotakku mb…keraslah pada dunia maka dunia akan lunak kepadamu…;)

    1. wah fi bagian kuwi adalah pengakuan terjujurku. kan sudah berdamai dengan diri sendiri 😀
      tapi beneran… aku mengalami masa-masa itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s