Resensi : Eat, Pray and Love

Mengkhatamkan novel ini mau tak mau memaksa saya mengingat perbincangan panjang saya dengan miss Titi (Identiti) di Salah satu kos di Pare, Kediri, Jawa Timur hampir satu tahun yang Lalu. Saya seperti menemukan sosoknya di dalam tokoh Elizabeth. Bedanya, miss Titi Muslim, sudah menginjak usia 40 tahun (Dan miss Titi menganggap usia 40 itu adalah usia matang seorang manusia dari sisi spiritual), sedang Elizabeth : bukan muslim  dan berusia 35 tahun. (Maaf! Bukan saya mau membandingkan muslim dan non muslim, hanya saja saya masih meyakini hipotesa bahwa ‘ini’ akan mempengaruhi proses pencarian seseorang. Elizabeth mencari Tuhannya dengan jalan meditasi dan Yoga, sedang miss Titi mencari Tuhannya dalam koridor muslim, entah itu tarekat atau sufi).

Elizabeth (saya akan sering menuliskannya sebagai Liz) bukannya tak punya apa-apa. Ia tinggal di Amerika, sempurna, cantik, terpelajar dan memiliki segalanya : Suami, Karier dan rumah mewah. Namun suatu malam ia panik, ketakutan, sedih dan bingung. Dan mendadak keadaan berbalik begitu saja : ia bercerai, depresi, kesepian dan kehilangan pegangan hidup.

Lalu ia mengambil langkah ekstrem dengan menjual semua assetnya dan menghabiskan satu tahun untuk tinggal di tiga Negara yang semuanya berawalan I : Italy, India dan Indonesia.  Empat bulan pertama ia tinggal di Italy. Ia belajar seni menikmati hidup, bersenang-senang dan belajar bahasa Italy. Untuk hal terakhir ini saya terkesan ketika Liz menyebutkan “…Hal yang menarik mengenai kelas bahasa Itali adalah tidak ada orang yang berada di kelas tersebut karena keharusan…Mereka datang ke Roma untuk alasan yang sama, untuk belajar bahasa Italia karena merasa mereka menyukainya. Tidak ada satupun dari kami yang dapat mengidentifikasi alasan praktis mengapa mereka berada disini..”(hal 52). (Inilah yang sering saya sebut : cinta adalah sebab. Ia tidak membutuhkan alasan!)

Empat bulan berikutnya ia tinggal di India, di sebuah Ashram tempat dia berlatih meditasi, yoga dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai disiplin. Disini ia dibimbing seorang guru perempuan dan berbincang tentang hidup dengan seorang teman dari Texas, Richard. Ada satu hal yang saya catat baik-baik ketika Liz dan Richard tentang belahan jiwa, “Orang berpikir bahwa belahan jiwa adalah orang yang paling tepat bagi dirinya, dan itulah yang dikehendaki semua orang. Tetapi seorang belahan jiwa yang sejati adalah sebuah cermin, orang yang menunjukkan kepada kamu segala sesuatu yang merintangimu, orang yang membawa kamu untuk memperhatikan dirimu sendiri sehingga kamu dapat merubah hidupmu. Seorang belahan jiwa yang sejati mungkin orang yang paling penting yang kamu temui, karena mereka menjatuhkan dinding pertahananmu dan menamparmu sampai kamu terjaga!” (klik! Beberapa minggu sebelumnya saya sedang berpikir, bahwa soul mate adalah dia yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘mengapa’ dan membantu saya menjelaskan bagian yang tidak saya pahami dalam hidup yang telah saya jalani selama ini).

Empat bulan berikutnya ia menghabiskan waktu di Bali, tepatnya di Ubud. Tentang Bali, Liz menyatakan “Bali, sebuah pulau hindu yang kecil yang terletak di tengah-tengah dua ribu mil kepulauan Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di bumi ini. Oleh karena itu, Bali merupakan sesuatu yang aneh dan menakjubkan”. Di pulau yang dikatakan bahwa dimana-mana setiap orang adalah seniman ini, ia belajar keseimbangan : kebahagiaan duniawi dan ketenangan surgawi. Betapapun, Ia tetap menjalankan Yoga dan meditasi sekaligus menikmati hidup dan jatuh cinta (lagi). Liz juga berguru kepada seorang dukun tua dari generasi kesembilan dan bersahabat dengan seorang dokter perempuan. Pada suatu hari dokter itu menyatakan, “Ada 6 elemen penyembuh patah hati : Vitamin E, banyak tidur, banyak minum air putih, melakukan perjalanan jauh dari orang yang kau cintai, meditasi dan memberi pengertian pada hatimu bahwa ini adalah takdir”.

Bagi saya, Ini termasuk novel berat (hampir setipe dengan Novel Gaarder, Zahir-nya Paulo Coelho atau The Celestine Phrophecy-nya James Redfield), sangat tidak disarankan bagi mereka yang tidak suka dialog panjang tentang filsafat dan hidup. Disana ada percakapan intim antara jiwa dan hati, diskusi tentang hal-hal abstrak berwujud depresi dan kesepian, penjabaran panjang tentang meditasi dan yoga, juga perbincangan menarik tentang Doa dan Tuhan. Tentang Doa, pada suatu bagian, Liz menjelaskan pada Iva—temannya— “Saya tidak merasa nyaman berdoa meminta sesuatu yang khusus kepada Tuhan, karena bagi saya itu menunjukkan semacam kelemahan iman…Karena—siapa tahu—Tuhan mungkin memang menghendaki saya menghadapi tantangan itu untuk alasan tertentu. Sebaliknya, saya lebih merasa nyaman berdoa meminta keberanian untuk menghadapi segala yang terjadi dalam hidup saya dengan ketenangan”. Tapi Iva membantah Liz dengan menyatakan, “…Kamu bagian dari alam semesta, Liz! Kamu mempunyai hak untuk ikut berpartisipasi dalam setiap tindakan alam semesta dan membiarkan perasaanmu diketahui. Jadi berikan pendapatmu disana..”

Dan novel ini di filmkan??? Hmm bagaimana ya? Saya hanya berharap semoga sang sutradara dan artis bisa membuat film tersebut lebih ringan dari pada novelnya.

[Rumah : 28 Maret 2010]

Iklan

9 thoughts on “Resensi : Eat, Pray and Love

  1. Waaah… Cukup surprise Miss.Ari mencantumkan namaku sbg sosok yang dikenalnya muncul dalam novel ‘eLiz, hehe…(jadi ingat Pare). Bagiku, hakekatnya, semua jiwa memang akan mencari asal Ruh nya. Tuhan. Allah kata orang Islam. Apapun jalannya. Maka
    ‘merugilah’ orang yang terlena dengan ragawi nya.

    Miss.Ari sendiri (baru kuketahui di FB) ternyata punya kemampuan membahasakan sesuatu yang abstrak dengan diksi yang dapat diterima umum (hihihi… ini bahasa akuntan, Prinsip Akuntansi yang diterima Umum). Hal yang untukku sangat sulit dilakukan tanpa tuntunan langsung dariNya.

    eLiz di Italy: Semua orang datang untuk belajar bahasa Italy… What is the different with us when we came to Pare? Similar. We have the real experience for this sentence, don’t we?

    Soul mate? no comment…

    eLiz di Bali: Aq sangat mengagumi kemampuan masyarakat pemeluk agama Hindu dalam menyelaraskan kehidupannya dengan alam sebagai wujud ‘what is it?’ (ketaatan/ syukur/ atau apa Miss (?)) kepada Tuhan. Lihat suku Tengger dan Bali? Mana bukit longsor di Tengger? Mana pohon yang kering di Bali? Mr.Shan suka ini 🙂 Luar biasa…!!! That’s way Bali survive di tengah negara Indonesia tercinta dengan populasi Muslim terbesar. Mereka mengagungkan Tuhan dengan ‘their own way’…

    Do’a bagi eLiz: idem ma aq… aq berdo’a untuk dapat menyelesaikan bagianku. Menepiskan semua halangan yang ada dalam perjalananku menujuNya, by my own way.

    Please share yours, people.

    Love and peace…

    1. thanks Miss 🙂 I love u.
      Soal soul mate, beneran no comment nih?
      oya, Namanya Liz, miss… bukan eLiz (bikin-bikin nama aja:) )…

  2. Miss, iyes. aq ke Pare 10 Mei sampai 22 Juni 2009 juga hahaha… Coba buka Profil Mr. Shan. Dia punya sesuatu yang dulu belum. Aq butuh jasanya keknya. Hipnotis untuk menghilangkan trauma ma Nyokap. Kek di Uya Kuyak gitu (tapi ga ngerjain). aq lebih percaya Mr. Shan hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s