21 Maret : Purwokerto

06.00 stasiun Purwokerto: Ini ritual yang selalu saya lakukan di Kereta

Bendungan itu..

selain membaca Novel : Melihat ke Jendela! Dari kaca buram itu saya tak hanya melihat sawah berjajar ataupun barisan gunung dan bukit yang berdiri angkuh.Percaya atau tidak, saya sedang berhadapan dengan diri sendiri. Saya sedang bercakap dengannya.

Sejak Jumat malam saya di Purwokerto.

Seorang teman bertanya. “Hah? Ngapain,Ri?” Uh, susah menjawab pertanyaan itu. Saya pingin bilang : “Lagi Depresi”, atau “ngabur”. Tapi sama sekali tidak solutif, akan banyak pertanyaan yang akan dia lontarkan. Maka Saya bilang saja, “Jalan-jalan”. Lebih enak kedengarannya. Siapa yang tidak suka jalan-jalan?

Malam itu, sesampainya di Purwokerto saya meluncur ke sudut UNSOED untuk memenuhi undangan teman di sebuah diskusi Pecinta Gunung Slamet tentang Earth Hour. Terus terang selama ini saya tidak begitu intens ngomongin isu lingkungan, hanya beberapa kali ikut diskusi, itupun karena terjebak (tidak sengaja ikut). Tapi malam itu dengan kesadaran tinggi Saya mendatangi diskusi itu. Mereka berbincang tentang isu air dan Earth Hour yang akan di’rayakan’ tanggal 27 Maret besok. (Aku baru tahu juga kalau tanggal 22 Maret itu hari air). Sebenarnya diskusinya asyik, tapi mataku tidak mau diajak kompromi. Nguantuuuk!! huuh…alhasil saya tidur bersandar di bahu teman saya sampai acara selesai.

Esoknya kami naik ke Lereng Slamet. Aku tertarik dengan desa Kali Pagu. Ada apa disana? Sebuah bendungan di lereng Gunung yang dipakai buat PLTA (Namanya PLTA Ketengger, untuk supply listrik Jawa-Bali). Konon kabarnya, Bendungan ini ada sejak jaman londo. Adanya-pun diatas sono…jadilah kayak perjalanan menuju negeri di awan. Membutuhkan energi ekstra, jalan kaki, naik turun bukit, tapi tenang saja, kami ditemani view yang keren dan alunan gemericik air. Dan sampailah..!

Dari Bendungan kami masuk hutan. Niatnya siih mau ke Pancuran tujuh (kompleks Baturraden). Sialnya kami tersesat, sinyal M3 mati pula,  Kabut mulai turun dan kami tidak bisa teriak-teriak (Bisa siih. Cuma pastinya teriakan kami akan kalah dengan suara air yang gemericik mengalir.). Sempat hopeless dan pingin menyerah. Alhamdulillah gak jadi! Sebab setelah melalui Jalanan

Pancuran Tujuh

naik, licin, dan ditambah  sedikit gerimis, kami lihat juga tanda-tanda kehidupan, kami sampai juga di Pancuran tujuh. Sumber mata air panas, dengan gua belerang yang menganga, menantang sekaligus mengerikan. Oya,ditengah perjalanan tadi kami ketemu jembatan kecil, dibawahnya batu besar dan air deras dan berada di ketinggian yang membuat saya ngeri. Saya benar-benar ingin balik kanan, tapi saya penasaran juga (ingat : penasaran itu kutukan!!).Akhirnya, Kami melintas juga, saat itu temen saya sempat-sempatnya bilang,”Ri, inilah surga yang digambarkan orang-orang arab..”Saya berpikir sebentar “Surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya?” Ho ho h0..

Two Adventurer

Kami tertawa! “Indonesia itu surga!”

”Trus kalau surga sudah ada disini,apa yang akan kita cari di akhirat nanti?”Ha ha ha…!! Ah Dasar!

Itu sajakah?

Tidak! Ada beberapa hal penting (dan lebih penting dari jalan-jalan itu) yang tak bisa diceritakan dengan kata-kata. Disana saya bertemu teman sekaligus guru yang membantu saya menjawab pertanyaan personal, “Kenapa aku begitu tertarik dengan Salatiga dan pernak-perniknya?””Mungkin ada bagian dari masa lalumu yang harus kau selesaikan, dan disanalah tempatmu menyelesaikannya.”katanya!

09.10 : Hampir sampai di Jogja

Ada yang saya lupa waktu saya ketawa-ketiwi kemarin, bahwa kadang-kadang tawa itu harus ditebus dengan sebuah kesakitan. Dan itulah yang terjadi. Ada kejadian di malam terakhir yang membuat saya luka. Saya ingin mengutuk diri yang telah termakan teknologi. Bisa-bisanya sebuah sms semalam (yang baru saya baca tadi pagi) bisa menyerap hampir sebagian energi positif saya pagi ini. Luka! Saya berharap ia hanyut di sungai-sungai yang tadi saya lewati: Serayu, Progo dan (nanti) Opak. Biar ia menyamudra! Saya tidak ingin pulang membawanya, cukup saya bawa sekeranjang gethuk goreng saja.

“Hidupmu Hidupku!”

Iklan

2 thoughts on “21 Maret : Purwokerto

  1. oh sayang sekali waktu dulu aku hanya sekedar melewati Gunung Slamet tanpa mampir. ternyata sangat eksotik. suatu saat nanti aku harus mampir! terima kasih informasinya ya Yulia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s