‘Ia’ in Wonderland

Air. Dimana-mana air. Elemen satu ini membanjiri tanahnya, rumahnya, semuanya. Menghanyutkan segalanya. Ia tidak bisa berenang. Tapi anehnya ia selamat dari banjir besar itu. hff!! Mimpi. Tak ada air. Tak ada banjir.

Dan siapa percaya mimpi? Awalnya ia tidak. Sekedar bunga tidur mungkin iya. tapi tak lebih.

Namun tahu-tahu–tanpa disadari–Ia benar-benar sudah berada di dalamnya. Hanya ‘Banjir’ itu tak berbentuk genangan air. Ia menjelma labirin. Panjang, gelap.

Mungkinkah ia jelmaan kelinci–berpakaian manusia, membawa-bawa jam–yang ditemui Alice di gerbang wonderland yang berteriak-teriak, ‘Aku terlambat!! Aku terlambat’? Dan demi menanyai kelinci aneh itu, tanpa pikir panjang Alice masuk wonderland. Masuk begitu saja. Sepertinya waktu itu.

Namun mungkinkah ia jelmaan kelinci satunya (uups! Ia lupa siapa nama kelinci ini?)? Kelinci satu ini gemar berpesta. Coba dengar katanya pada Alice,”Selamat hari tidak ulang tahun!!! Sebab dalam setahun hanya ada satu hari ulang tahun, jadi ada 364hari tidak ulang tahun!” ha ha ha. Lalu pesta dan pesta. Labirin itupun mengajaknya berpesta. Berfoya. Sungguh, Labirin ajaib bukan?

Dan mendadak labirin menjelma si Ratu Hati.Arogan.Kejam.Keras dan tak bersahabat. Alice terancam. Ia hampir dipenggal. Tapi bagaimanapun sikap sang ratu, Alice tetap harus bertemu dengannya.

Kenapa?

Untuk tahu bahwa ia sedang berada dalam sebuah wonderland. Ini bukan dunianya. Ia harus segera pulang.

Dan seperti Alice, Ia juga harus segera pulang, kembali ke dunianya.

[Boyolali, 2 Februari 2010]

Iklan

2 thoughts on “‘Ia’ in Wonderland

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s