Menemukan Atap Jiwa

“Don’t you miss your home?” tanya jane lagi.
Home. Aku tidak tahu dimana rumahku. Justru itu aku kesini, mencoba mencari jawaban.

“Home itu dimana kamu merasa paling aman dan nyaman apapun yang terjadi”,
“Home, dimana kamu mendapat ketenangan jiwa, terkadang tidak harus bersama orang yang kita cintai. Terkadang hanya diri kita sendiri dan perasaan tenang.”

Beberapa hari itu, dia mengajakku bercerita apa saja. Aku dibawanya masuk ke dunia antah berantahnya, kedalam kegelisahannya, juga pencariannya akan ‘sesuatu’. (aku lebih suka menyebut ‘sesuatu’ itu sebagai atap jiwanya).

Padahal, Kalau dipikir, Apa lagi yang kurang dari hidupnya? cantik, hidup cukup, sudah menikah dengan seorang laki-laki yang mencintainya, mempunyai ayah, ibu dan kakak yang masih lengkap, tinggal di singapura dan bisa dengan sesuka hati berlibur kemanapun.

Lalu iapun bercerita tentang cintanya. Beberapa tahun yang lalu ia menikah dengan Jigme, seorang tibet yang ia temui di Pittsburg. Sebab cinta? Entahlah, ia sendiri tak pernah menanyai dirinya tentang hal ini. Yang jelas pernikahan itu (lagi-lagi) tidak membuatnya damai. Di mata banyak orang, ia seperti sudah menemukan ‘rumah’ fisiknya tapi bukan ‘rumah’ bagi jiwanya.

Lalu ia pergi (dengan ijin sang suami). Dari ‘rumah’nya untuk mencari ‘rumah jiwa’nya. Ia ke Pittsburg, kota tempat ia pernah menghabiskan sebagian hidupnya. Tahukah siapa yang ia temui? Aji! Seorang laki-laki yang dulunya pernah ia cintai, pernah ia puja, pernah ia buang, dan kini ia cari lagi.

Untuk apa? tidak tahu! Mungkin untuk mencari cintanya. ia hanya mengikuti kata hati. Ia sungguh-sungguh tidak tahu untuk apa Tuhan mengirimnya kepada Aji. Tapi masa bodoh, ia sudah bersama Aji, sudah menemukan sesuatu yang ia sebut kebahagiaan.
Hingga suatu hari,
“kau tidak bahagia!” kata seseorang
“Kamu menikah dengan Jigme karena ia mencintaimu,bukan?” tanyanya. Waktu itu June merespon dengan anggukan.
“Apakah kamu sendiri mencintainya?”
(June tidak menjawab. Bimbang.)
“June, dengar!!! Artinya kamu memilih Jigme karena ketenangan jiwa…”*

Lalu hatinya berontak lagi. Di tempat ini, memang ia bahagia, tapi tidak tenang. Ia menemukan yang dicari, tapi kehilangan yang lain lagi. Kegelisahan itu membuat ia bergolak, kemudian bertolak, dan ia pergi. Meninggalkan Aji, meninggalkan “cinta”nya. Pulang.Dan kali ini benar-benar pulang.

Pertanyaan terbesarnya terjawab, ia bertemu Aji untuk menyadarkan bahwa ia sudah memiliki cinta yang tidak hanya membahagiakan, tapi menenangkan. Tidak meletup-letup memang, tapi menyangga.

Dan apa kata Jigme soal ini?
“Secara tidak sadar hatimu memanggilku. Aku mendengarnya mengerang minta tolong. Bukankah jiwa dan pikiranmu perlu aku rekatkan jadi satu,istriku sayang?”**

Sekali lagi ini tentang cinta. tapi ini lebih tentang bagaimana memutuskan cinta seperti apa yang akan kau pilih. cinta macam apa yang kita cari?

[Kisah ini sepenuhnya ada di novel ATAP, Fira Basuki]
* hal 178
** hal 268
(saya jadi ingat film india yang ceritanya hampir mirip dengan proses pencarian macam ini, hmmm judulnya apa. aku lupa.).

Iklan

2 thoughts on “Menemukan Atap Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s