Elegi Cinta Burung-Burung Manyar

Sekedar merekam kicauan Burung-Burung Manyar, Y.B MangunWijaya

Sebuah mitologi Yunani yang ditulis Plato menyebutkan bahwa dulunya manusia diciptakan dengan dua kepala, dua badan, empat tangan dan empat kaki, tapi cuma punya satu hati. Lalu Tuhan memisahkan mereka, yang satu jadi laki-laki, yang satu menjadi perempuan. Mereka punya badan yang utuh, tapi hatinya cuma sepotong! Dan ketika  mereka hidup di dunia hati-hati itu akan saling mencari. Saling memanggil satu sama lain. Cinta Platonik namanya.

Tersebutlah Setadewa (Tetto), yang menyebut dirinya anak kolong, bapaknya seorang serdadu KNIL, ibunya seorang indo bernama Marice. Dan Larasati (Atik), seorang periang, pecinta alam dan seorang nasionalis. Keduanya sama-sama berdarah biru dan saling mencintai. Namun roman antara keduanya disajikan dalam rajutan yang pelik dan politis. Pada masa itu, masa singkat ketika Posisi Belanda digantikan Jepang, Ayah Tetto ditangkap, kemudian ibunya dijadikan ‘gundik’ jepang. Kebencian pada Jepang (hingga Tetto menyamakannya dengan Indonesia) inilah yang menjadikan ia akhirnya memihak Belanda dengan menjadi anggota NICA, sementara Atik bekerja pada republik dengan menjadi seorang asisten Perdana menteri (Waktu itu dijabat Syahrir).

Melalui sajian sejarah tiga jaman di Roman ini–1933-1944: Masa peralihan kekuasaan Belanda ke Jepang, 1945-1950: Masa Agresi Belanda II dan 1968: masa orde baru—yang dirajut dengan begitu memesona, Romo Mangun mengajak pembaca melihat kemerdekaan Indonesia dari sisi seorang (katakanlah) pengkhianat bangsa. Betapa tidak, biasanya kemerdekaan Indonesia dipuja sebagai ‘pembebas’, tokoh-tokoh pergerakan dianggap pahlawan dan dilindungi, tapi Tetto melakukan hal sebaliknya. Ia hampir menembak Syahrir, memimpin penyerangan ke Jogja yang akhirnya berhasil menangkap presiden dan wakil presiden saat itu, hingga akhirnya setelah konfrensi Meja Bundar dimana Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, Tetto memilih keluar Indonesia, menjadi Warga Negara Asing dan seorang Ahli komputer.

Bagaimana dengan Atik? Ia tetap seorang nasionalis, mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Saya melihat Atika sebagai seorang perempuan yang rasional. Cintanya pada Tetto tidak membuat ia ikut-ikutan memusuhi Indonesia, lalu melakukan apa saja demi cinta. (Kalau remaji jaman sekarang kan ga peduli sama idealisme, pokoknya semuanya demi cinta. Halah kayak judul sinetron). Keyakinannya bahwa cintanya pada Tetto tidak bertepuk sebelah tangan tidak membuat dia ‘nampak’ jatuh berlarut-larut, akhirnya dia menikah dengan Janakatamsi, mendapat tiga anak dan menjadi seorang doctor di bidang Biologi.

Kalau saya bilang, cinta antara Tetto dan Atika adalah cinta sejati (atau lebih tepatnya platonis?). Setelah bertahun-tahun, Tetto masih menganggap Atik sebagai kekasihnya, demikian dengan Atik. Namun bagaimanapun juga, di novel ini Jana tetap pemenang, ia menjadi suami Atik dan akhirnya sehidup semati dengan Atik hingga kecelakaan pesawat merenggut mereka pada sebuah perjalanan ke Tanah suci. Disisi ini saya melihat Y.B Mangunwijaya sukses menampilkan seorang tokoh utama yang benar-benar ‘manusiawi’, lengkap dengan keangkuhannya, kekerasannya, kebaikan hatinya dan konflik perasaannya.

[Boyolali, 22 Jan 2010 06:18]

Iklan

2 thoughts on “Elegi Cinta Burung-Burung Manyar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s