School, Sekolah, Skhole…

[Catatan setelah membaca ‘Sekolah itu Candu’. Bagian kedua dari dua tulisan]

“Pendidikan itu menyalakan lentera. Bukan mengisi bejana” (Socrates)

Saat ngubek-ubek ‘Grebeg Buku Jogja’ kemarin, saya menemukan buku menarik di stan Insist. ‘Sekolah itu Candu’ (Roem Topatimasang). sebenarnya buku ini adalah buku lama (terbit tahun 1998) yang diterbitkan ulang oleh Insist, dengan cover baru dan tambahan dua tulisan baru.

Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal ikhwal yang mereka rasakan memang butuh dan perlu untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah skhole, scola, scolae, atau schola. keempatnya mempunyai arti sama : ‘waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar’ (leisure devoted to learning) (hal.6)

Orang-orang Yunani kuno memang bukan bangsa pertama dan satu-satunya yang memulai tradisi sekolah. Konon, sebelum Socrates dan Plato menyelenggarakan academica atau lyceum di Athena, bangsa china purba sudah memulainya pada 2000tahun sebelum jesus lahir. Kaum Brahmin di India membangun sekolah-sekolah Veda setengah abad sesudahnya. (hal 10).

Indonesia sebelum kemerdekaan juga sudah mengenal sekolah. Tentunya tidak dalam bentuk ‘modern’ semacam sekarang. mereka berguru di padepokan atau pesantren. Pada masa penjajahan, sekolah juga didirikan oleh Belanda dengan membatasi akses untuk pribumi hingga akhirnya politik Etis-lah yang benar-benar membawa konsep sekolah modern ke Indonesia.[Saya sering menyebut sekolah ini sebagai sekolah kompeni. Ironisnya, setelah hampir 65 tahun merdeka, akhirnya Indonesia kembali ke jaman ini lagi. Didirikanlah sekolah berlabel RSBI/SBI yang hanya bisa digapai oleh mereka yang kaya secara materi]. Selain Belanda, Beberapa tokoh nasional mendirikan sekolah di wilayah masing-masing, sebutlah Ki Hajar Dewantara dengan Taman siswa-nya yang masih eksis hingga sekarang. R.A Kartini, Dewi Sartika dan K.H Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya.

Setelah merdeka, sekolah dan pendidikan mulai diatur pemerintah seperti tersebut dalam Undang-Undang Dasar 1945. Mencerdaskan kehidupan bangsa, begitu termaktub dalam pembukaannya. Maka dibangunlah sekolah hingga pelosok negeri, kurikulum disusun, guru digaji,seragam ditetapkan, rakyat mulai melek huruf, ia berkembang dan berkembang hingga standar kelulusan-pun ditetapkan. Lalu muncul sekolah-sekolah model baru : mulai dari kelompok-kelompok IT (Islam Terpadu), sekolah alam, pesantren modern, Boarding School, Lab, dst. Rakyat Indonesia makin pintar, dunia makin pintar, manusia makin pintar. Standar kian tinggi. pemerintah kian bangga. siswa kian tercekik, hingga ada seorang siswa yang bilang pada saya “Sekolah itu seperti penjara”. (saya jadi ingat seseorang yang lain pernah bilang, lebih baik dipenjara daripada sekolah. Di penjara tidak ada tugas dan kewajiban menghafal berbagai rumus).

saya jadi ingat diskusi sekitar sebulan yang lalu sewaktu ada kunjungan dari mahasiswa UNY ke Qoryah Toyyibah. QT adalah sekolah berbasis komunitas, tanpa kurikulum, tanpa jadwal, tanpa seragam di Kali Bening, Salatiga.
Salah seorang mahasiswa bertanya,”Apakah ada masalah di sekolah ini yang sejak awal timbul dan belum bisa dipecahkan?”
Pak Ahmad menjawab,” Hmm nampaknya tidak ada. Yang jadi masalah kami adalah kami tidak habis pikir, bagaimana sekolah-sekolah formal itu bertahan dengan keseragamannya sejak dulu hingga sekarang. yang dipelajari itu-itu saja. bagaimana bisa mereka tidak bosan dengan semua itu?”

*Wassalam*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s