UAN oh UAN

[Mempertanyakan paradigma pendidikan. Bagian pertama dari dua tulisan]

2010. Tahun baru. Bulan baru. Riuhnya sudah selesai. Resolusi sudah ditetapkan.

Bagi siswa kelas 12 (3 SMA), hari-hari ini adalah hari sibuk mereka mempersiapkan ‘masa depan’. Mulai dari UAN yang ‘katanya’ maju bulan maret (sebelumnya UAN biasa dilaksanakan bulan April), berbagai ujian masuk universitas, hingga pilihan-pilihan dilematis mengenai jurusan yang akan dimasuki.

Lalu masa setelah dan sebelum UAN biasanya akan ada protes dan demonstrasi dengan tuntutan yang sama tiap tahun. Bubarkan UAN! Bubarkan UAN! Pemerintah diam. Bagaimana mau dibubarkan? Pemerintah butuh ujian ini untuk mengevaluasi pendidikan. [Hey siapa yang sebenarnya butuh ujian?] UAN sekaligus disulap menjadi monster yang menakuti siswa agar mereka tidak neko-neko. [Benar saja, kalau tidak ada moment ujian, kapan siswa akan belajar?].

Di kalangan siswa dan sekolah, keriuhan menyambut UAN tak ubahnya seperti mereka menyambut tahun baru. berbagai les dan jam tambahan digelar, siswa-siswa yang putus asa dengan les dan merasa tak bisa bertambah pintar mulai kusak-kusuk, apalagi yang bisa dilakukan kalau tidak membeli paket soal. buat apa belajar,mbak? yang penting lulus kan? [haduh, bisa gila saya!]

Bulan-bulan ini, kesibukan ini, keriuhan ini selalu berulang setiap tahun, menjadi rutinitas dan ritual yang tak berujung. apa sebenarnya yang terjadi?

[To be continued]

Iklan

One thought on “UAN oh UAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s