Huis Clos : Pintu Tertutup!

“Mana alat penyiksanya?!!” laki-laki itu berteriak kepada  seorang pelayan. Hanya ada mereka di ruang itu, sebuah “ruang” dengan tiga sofa masing-masing berwarna hijau, merah dan biru.

“Tidak ada penyiksa,Tuan!” sahut sang pelayan datar.

“Tidak ada penyiksa? tidak ada algojo?” Sang tuan bergumam, kemudian kembali bertanya banyak hal, kemanusiaannya hingga menanyakan kemana sikat giginya.
“Disini ‘itu’ tidak dibutuhkan lagi,Tuan!” sahut sang pelayan datar.

Salah satu adegan itu yang saya saksikan pada pentas teater Delik berjudul “Huis Clos (No Exit)”  (Pintu Tertutup) karya Jean Paul Sartre, dengan Sutradara Nanang Fao Rino dan Assisten Sutradara Retno Denok , 19 desember 2009 lalu di STAIN Salatiga.

Pintu Tertutup ini adalah suatu potret kecil sebuah neraka yang sebenarnya timbul akibat sebuah egosentris yang muncul dari para penghuni yang tinggal di dalamnya. Keegoistikan yang muncul dari setiap penghuni menjadi suatu alat penyiksa yang paling sempurna. Sehingga semuanya melambangkan manusia yang seakan-akan dikodratkan menempati sebuah ruangan yang tertutup dan terbatas, memuakkan, tanpa cermin, tanpa jendela. *

Sungguh, ‘neraka’ ini berbeda dengan cerita ustadz TPA ketika saya kecil…bagaimana menurut anda?
catt:

* tertulis di leaflet.

Iklan

2 thoughts on “Huis Clos : Pintu Tertutup!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s