Teori Evolusi : Darwin dan Rumi

[Belajar dari Sang Maulana eps.2]

Selain menemukan Ma’rifah, saya bertemu dengan versi lain teori Evolusi yang berbeda dengan teori yang selama ini saya kenal. Seperti yang kita kenal selama ini, teori evolusi selalu diidentikan dengan nama Charles Darwin, yang sangat terkenal dengan the origin of speciesnya. Teori ini mempengaruhi banyak aspek dan menimbulkan banyak pertentangan di kalangan agamawan. Namun ternyata, enam abad sebelum Darwin, Rumi telah meluncurkan teori evolusinya, teori evolusi yang amat menarik dan komprehensif.

Menurutnya, evolusi disebabkan oleh cinta. Evolusi alam dimulai dari “cinta alam” (yang pada waktu itu masih berupa potensi) kepada Tuhan, sebagai realitas sejati. “Karena pesona gelombang cinta, seperti Zulaikha kepada Yusuf, alam mabuk kepayang (kepada Tuhan), langitpun berputar”. Maka alampun berkembang secara perlahan dari tingkat yang rendah, mineral, melalui tumbuhan, hewan hingga tingkat tertinggi : manusia.

Rumi mengisahkan evolusinya di Matsnawi “ Aku mati sebagai mineral dan menjadi tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan bangkit sebagai hewan, aku mati sebagai hewan dan aku menjadi manusia”. Lebih dari teori Darwin, Rumi percaya bahwa evolusi akan terus berlangsung setelah tingkat manusia. Ini membuktikan keyakinannya pada kelangsungan jiwa setelah kematian “Mengapa aku harus takut ketika maut menjemput? Sekali lagi aku akan mati sebagai manusia agar dapat mengarungi dan berada diantara malaikat…”

Perbedaan yang paling mendasar antara Darwin dan Rumi terletak pada sumber yang memicu cinta alam. Menurut Darwin, kekuatan yang menggerakan evolusi bersifat imanen (dorongan dalam diri) yaitu seleksi alam, sehingga Darwin tidak pernah mengaitkan evolusi sebagai ciptaan agen transenden yang disebut Tuhan. Namun Rumi menyatakan sebaliknya, bahwa tidak mungkin ada evolusi  tanpa cinta sebagai penggeraknya. Lagi pula, bisakah cinta muncul sendiri tanpa obyek yang dicintai? Mustahil.

Dari teori ini, saya jadi tahu bahwa manusia adalah ‘produk’ akhir evolusi alam, sebagaimana buah sebagai ‘produk’ akhir sebuah pohon. Pertanyaannya, kalau benar manusia adalah produk akhir, kenapa manusia diciptakan belakangan? Kenapa manusia tidak diciptakan sebelum yang lain? Terhadap pertanyaan ini, menurut Rumi, kita layak memperhatikan pohon. Buah merupakan tujuan akhir dari tumbuhnya sebuah pohon,bukan? Bahkan setelah menghasilkan buah, pohon pisang akan mati. Maka manusia layak disebut “buah alam”. “Kalau bukan mengharap buah, bagaimana seorang petani akan menanam pohon?”

Wallahu’alam.

Iklan

4 thoughts on “Teori Evolusi : Darwin dan Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s