[Resensi] Three Cups of Tea

Penulis : Greg Mortenson & David Oliver Relin
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika) 2008

“.. (Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau cupmasih orang asing; cangkir kedua engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun—bahkan untuk mati”
(Haji Ali, Kepala Desa Korphe,Pegunungan karakoram,Pakistan)

Buku ini merupakan kisah nyata Greg Mortenson, seorang pendaki gunung asal Amerika yang berniat menaklukan puncak tertinggi kedua sedunia di Himalaya, puncak K2. Tahun 1993, ia melakukan perjalanan itu demi adiknya—Christa—yang telah meninggal. Namun, bukan hanya gagal, ia juga tersesat dan nyaris mati. Setelah berjalan selama tujuh hari, sampailah ia di desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan. Di wilayah miskin ini jalan hidup Mortenson berubah. Ia melihat bagaimana anak-anak disana bersekolah : delapan puluh dua anak duduk melingkar, berlutut di tanah beku,dalam udara dingin dengan tertib mengerjakan tugas, dengan guru yang berbagi dengan desa tetangga. Desa ini pun tidak punya sekolah dan pemerintah tidak menyediakan guru untuk mereka. Sejak itulah Mortenson berjanji pada Haji Ali (sosok yang telah menolongnya) dan kepada penduduk

Karakoram
Karakoram

Korphe, “Aku akan membangun sebuah sekolah!”.

Maka mulailah ia melakukan ‘perjalanan’ yang sesungguhnya. Tidak lagi mendaki puncak K2 atau Everest, tapi perjalanan memenuhi panggilan jiwanya. Berbagai upaya ia lakukan, mulai dari menulis 580 surat di awal misinya (hasilnya, ia mendapat selembar cek dari Dr. Jean Hoerni—seorang dokter dari Cambridge kelahiran Swiss) hingga membuat dan menghadiri berbagai seminar untuk mensosialisasikan program ‘sekolah’ ini. Hasilnya, hampir lima puluh satu sekolah dibangunnya dalam waktu 10 tahun. Bersama para donor, ia membentuk sekaligus menjadi direktur CAI (Central Asia Institute), yayasan yang membiayai pembangunan dan pengelolaan sekolah-sekolah itu. Tidak hanya wilayah Pakistan, Ia juga memasuki ‘zona merah’ (bagi orang amerika) setelah peristiwa 11/9 : Afghanistan yang dikuasai Taliban.

Dibuku ini, Mortenson tak hanya bicara tentang ‘sekolah’ sebagai sebuah bangunan dan sesuatu yang bersifat material dan ada, ia bicara tentang ‘sekolah’ yang mempunyai dua peran bertolak belakang, sebagai sarana untuk menebarkan kedamaian di muka bumi atau sebagai media penanaman ideology (Terorisme). Secara khusus tentang sekolah-sekolah di Afghanistan, Mortenson menyebutkan bahwa daripada Amerika menyediakan bermilyar-milyar uang untuk membiayai perang melawan ‘teroris’ lebih baik anggaran dipakai untuk mendirikan sekolah di wilayah-wilayah terpencil itu, sebab di balik gunung terjal itulah para ‘teroris’ dilahirkan dan belajar.

Pesan gender juga jelas terlihat dalam buku ini. Awalnya Mortenson hanya membuat sekolah umum untuk laki-laki dan perempuan, tapi belakangan ia mengutamakan anak perempuan di sekolahnya. Selain itu, ia juga membangun balai pertemuan wanita yang digunakan untuk para wanita berkumpul dan belajar. Jelas ia sudah mendobrak tradisi yang ada disana, bahwa wanita tidak diijinkan keluar, berbaur dengan laki-laki dan belajar. “ Kalau anda mendidik anak-anak lelaki, begitu selesai sekolah mereka cenderung pergi meninggalkan kampong dan mencari pekerjaan di kota. Tetapi gadis-gadis tetap tinggal di rumah, menjadi pemimpin di tengah masyarakatnya, dan menyebarkan pengetahuan mereka. Kalau anda benar-benar ingin mengubah suatu budaya dan pola pikir, memberdayakan kaum perempuan, memperbaiki tingkat kesehatan dan higienitas, maka jawabannya adalah mendidik anak-anak gadis” (hal.390)

Di bagian akhir diceritakan tentang peristiwa WTC 11 September (subjudul : sebuah desa bernama New York) dari sudut pandang Mortenson yang saat itu sedang berada di Pakistan. Bagaimana kemudian Amerika mengibarkan perang melawan teroris dan memutuskan mengirim pasukan ke Afghanistan, bagaimana perasaan warga Pakistan yang mendengar Amerika (Negara Mortenson) di bom dan akhirnya keputusan Mortenson memasuki daerah konflik untuk mendirikan sekolah.

Akhirnya, inilah kerja-kerja besar itu, sebuah jalan yang tidak berujung. “Aku tidak bisa membaca apapun. Inilah kesedihan terbesar dalam hidupku. Aku akan melakukan apa saja agar anak-anak di desaku tak perlu merasakan kesedihan yang sama. Akan kubayar berapapun supaya mereka mendapatkan pendidikan yang menjadi hak mereka” (hal.285—Percakapan antara Haji Ali dan Greg Mortenson).

Rumah, 21 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s