Narsis?

Siapa yang tak kenal kata ini? Dalam bahasa umum, orang narsistik adalah orang yang menjadikan dirinya pusat segalanya ( The narcissist becomes his own world and believes the whole world is him—Theodore I. Rubin). Lalu kata narsis berkembang untuk menyebut hampir semua orang yang memuji diri sendiri, memajang foto dirinya di tempat umum maupun khusus, dan sejenisnya.
Kata Narsis diambil dari mitologi Yunani tentang seseorang yang bernama Narcissus. Dia anak dewa Chephissus dan peri Liriope. Konon, Narcissus ini sangat rupawan hingga menarik hati semua perempuan pada masanya. Dikisahkan salah seorang perempuan yang jatuh hati itu bernama Echo. Tapi Narcissus menolak cinta Echo hingga membuat Echo sakit dan menderita. Penderitaan Echo membuat seorang dewi bernama Nemesis bersimpati hingga menghukum Narcissus, ia akan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Maka tiap hari ia berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona dengan dirinya hingga suatu pagi, ia jatuh kedalam danau itu dan tenggelam. Di titik tempat jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga yang dinamakan Narcissus.
Hampir pada semua cerita sejarah, kisah itu tamat saat Narcissus mati. Tapi prolog “The Alcemist” karya Paulo Coelho mengisahkan hal yang lebih menarik.
Dia menyatakan bahwa ketika Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula berupa air segar, telah berubah menjadi danau airmata yang asin.
“Mengapa engkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya dari dekat.”
“Tapi… indahkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran.
“Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!”
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
“Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”

Semoga bermanfaat.

Iklan

2 thoughts on “Narsis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s