[Resensi] Negeri Fast Food

Judul : Negeri Fast Food

Penulis : Eric Schlosser

Penerjemah : Ronny Agustinus

Penerbit : Insist Press Yogyakarta

ISBN : 979-3457-16-3

392 halaman + i-x, 14,5×21 cm

[Saya membeli buku ini sekitar 10 bulan yang lalu, tepatnya bulan Juli 2007. Tidak seperti buku lain yang biasanya langsung saya baca setelah saya beli, buku ini sempat terlantar di rak buku berbulan-bulan lamanya. Kalah dengan novel-novel yang saya beli belakangan]

Buku ini adalah buah dari riset dan investigasi yang dilakukan Eric Schlosser untuk menyajikan fakta tentang industri fast food yang telah mencengkeram perut orang-orang amerika dan kini—dunia. Sebuah usaha menawan yang dilakukannya untuk membuka mata dunia bahwa perjalanan sebuah Burger Mc Donald’s atau sepotong ayam goreng di KFC hingga tersaji dan siap santap sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan semua orang.

Ratusan juta orang membeli fast food tiap hari tanpa berpikir panjang, tanpa menyadari liku-liku subtil maupun tidak subtil dari barang belanjaan mereka. Mereka jarang menyadari dari mana makanan ini berasal, bagaimana ia dibikin, apa yang diperbuatnya pada komunitas sekelilingnya… (hal 13)

Bagi Eric, fast food tidak hanya mengubah pola makan dan konsumsi, lebih dari itu industri ini telah melahirkan gaya hidup, menyajikan budaya baru dan problem sosial bagi Amerika. Merebaknya industri makanan cepat saji ini menyulut perubahan besar dalam cara memelihara ternak, menyembelih dan memprosesnya menjadi daging giling. Perusahaan pengepakan daging menjadi pekerjaan paling berbahaya di AS, dijalankan oleh para imigran gelap, bergaji rendah dan tak jarang mereka celaka tanpa mendapat ganti rugi. Luka bacok, Tendinitis (cedera tendon), cedera punggung, cedera bahu, dan sindrom lemas tangan (carpal tunnel syndrome) adalah hal biasa yang sering dialami para pekerja. Tingkat higienitas pekerja, tempat kerja dan proses memasak terkadang malah memudahkan masuknya E.Coli 0157:H7 ke dalam daging yang disajikan.

Kentang goreng yang disajikan sebagai teman santap sebuah burger juga tak lepas dari pengamatan Eric. Dia menyatakan bahwa merebaknya permintaan kentang goreng telah mendorong petani meningkatkan produksi mereka. Namun anehnya, laba menakjubkan dari penjualan kentang goreng hampir tidak mengucur ke petani (hal 147). Perusahaan pengolah kentang mendorong petani untuk menurunkan harga jual kentang. Eric menyatakan bahwa petani kentang Idaho (salah satu daerah penghasil kentang di AS) mengalami tekanan berat : bertahan atau enyah dari bisnis ini.

Dari setiap 1,5 dolar yang dibelanjakan untuk pesanan kentang goreng ukuran besar di sebuah restoran fast food, barangkali hanya 2 sen yang masuk ke petani penanam (hal 147)

Yang menurut Eric paling mencengangkan dari penulusurannya selama 3 tahun tentang fast food adalah peristiwa pada tanggal 1 maret 1999. Awal maret itu, di Hotel Mirage, Las Vegas, seorang Mikhail Gorbachev (mantan presiden soviet tertinggi USSR, pemenang tahta lenin, Selempang Merah Kaum Buruh dan hadiah nobel perdamaian) memberikan pidato puncak sebelum konvensi fast food. Gorbachev tampak sebagai sebuah pilihan ganjil (aneh tapi menarik) untuk berbicara di depan kelompok penentang serikat buruh, upah minimum dan aturan keselamatan kerja. Tahun 1987, dalam perestroika Ia pernah menulis, ”mereka yang berharap kami menyingkir dari jalan sosialis akan luar biasa kecewa”. Dan sepuluh tahun kemudian, 1997, ia menulis ”Badut-badut ceria, pang-plang Big Mac, dekorasi unik warna-warni serta kebersihan ideal, semua ini melengkapi hamburger yang layak mendapat popularitas hebatnya” (hal 298) pada kata pengantar To Rusia with Fries.

Membaca buku ini membuat saya teringat pada diskusi intensif dengan teman-teman Al Manar beberapa bulan yang lalu tentang konsep Halal & Thayyib. Islam tidak hanya melihat halal—yakni tentang dari bahan apa barang dibuat, kandungan zatnya dan bagaimana dalil di Al Quran—namun juga mengenal konsep Thayyib—tentang bagaimana proses yang dijalani barang tersebut hingga menjadi ada—yang justru sering dilupakan banyak orang.

Tapi untungnya lidah saya tidak terbiasa dengan makanan-makanan itu, hamburger di Mc Donalds, ayam goreng di KFC atau sepaket Pizza di Pizza Hut. Namun ketika saya melihat plang fast food di pinggir jalan, melihat iklan mereka di Televisi, di koran dan di berbagai majalah, mau tak mau saya ingat sepenggal kalimat di buku ini, kalimat yang diteriakkan oleh Fujita, milyurner yang menghadirkan McDonald’s di Jepang sekian tahun lalu ”kalau kita makan hamburger dan kentang McDonald’s selama seratus tahun, kita akan jadi lebih tinggi, kulit kita akan jadi putih dan rambut kita akan jadi pirang”. He he he..

Jumat,16 Mei 2008—di Rumah, ditemani ”Sore Tugu Pancoran”nya Iwan Fals

Iklan

2 thoughts on “[Resensi] Negeri Fast Food

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s