[Resensi] Aku Musa Engkau Fir’aun

[ Novel ini saya dapatkan saat saya ’jalan-jalan’ ke UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga. Bersama seorang teman, saya mengunjungi festival kebudayaan Indonesia—kalo ga salah namanya gitu—disana. Ternyata ada stan diskon buku sastra. Awalnya sih saya nguber kumpulan puisinya pak Sapardi ’DukaMu abadi’. Karena ga ada, pilihan saya jatuh pada novel ini dan sebuah kumpulan cerpen ’Kali Mati’nya Joni Ariadinata]

Novel ini adalah terjemahan dari Jabal, salah satu dari lima judul serial pada Novel Aulad Haratina karya Najib Mahfoud yang ditulis pada tahun 1960. Kelima judul tersebut antara lain Adham, Jabal, Irfah, Rifa’ah dan Qasim. Pada sampul belakang novel ini disebutkan bahwa Aulad Haratina pernah dilarang terbit di Al-Azhar karena jalinan kisahnya yang ’seperti’ cerita nabi sejak Adam a.s. Meski demikian Daarul-Adab di Beirut menerbitkan novel ini dan dalam waktu setahun—1985—novel ini mengalami cetak ulang sebanyak lima kali.

Adalah Jabal—yang kelak menjadi pahlawan sekaligus personifikasi tokoh Musa—anak laki-laki dari klan Hamdan, keturunan Jabalawi dari kakeknya yang bernama Adham. Ia diangkat anak oleh al-Afandi, keluarga kaya dan berkuasa yang tidak memiliki putera. Keluarga al-afandi dan keluarga Jabal ( klan Hamdan) sama-sama berasal dari keturunan Jabalawi. Namun keserakahan al-afandi pada harta menyebabkan al-afandi berbuat zalim pada klan Hamdan. Al-Afandi bahkan mengangkat Zaqlat—sosok kejam dan berkuasa—untuk menjaga harta dan kedudukannya.

Berbagai peristiwa yang terjadi di novel ini hampir mirip dengan kisah musa melawan Fir’aun. Dimulai dari kegelisahan Jabal pada kezaliman yang menimpa keluarganya, terbunuhnya seorang kaki tangan al-Afandi di tangan Jabal, larinya Jabal dari tanah kelahirannya, hingga proses pertemuannya dengan al-Baqity. Disebutkan bahwa di tengah pelariannya, Jabal bertemu dengan dua orang perempuan yang sedang berebut air di sebuah sumur umum. Tentu saja dua perempuan itu kalah dengan para lelaki yang lebih kuat dan tidak mendapat air minum seperti yang diinginkan. Sebagai seseorang yang berhati baik, Jabal menawarkan bantuannya. Dan imbalannya, Jabal diijinkan tinggal di rumah mereka, menemani ayah mereka : Al-Baqity—yang akhirnya menjadi ayah mertua Jabal karena pada akhirnya salah satu dari dua perempuan ini menjadi istrinya.

Dalam novel ini, Al-Baqity adalah personifikasi dari Syu’aib (Mertua Musa). Di pelariannya ini, Jabal mendapat banyak pelajaran dari Al-Baqity. Ia adalah mertua sekaligus guru bagi Jabal. Ketika sudah mencapai kematangan, dia mendapat ‘wahyu’. Di suatu malam, ia bertemu dengan kakek moyangnya: Al Jabalawi. Jabal mendapat amanah untuk menegakkan keadilan bagi klan Hamdan karena kekejaman al-afandi sudah melampaui batas.

Maka pulanglah Jabal ke tanah kelahirannya. Ia menjadi pemimpin perlawanan hingga akhirnya kemenangan itu diperoleh Jabal dan Klan Hamdan. Al-afandi tumbang.

Bagi saya, ini adalah salah satu novel terjemahan yang cukup sulit ditaklukan. Butuh kesabaran dan konsentrasi ekstra. Entah karena bahasa terjemahannya yang sulit saya pahami atau karena metafor yang dipakai Najib terlalu tinggi untuk saya jangkau. Saya kesulitan menghubungkan beberapa ide yang disajikan di novel ini. Seperti bagaimana hubungan antara al-jabalawi dan adham yang tidak diceritakan tapi membayangi setiap lembar. Saya berteori bahwa kejanggalan ini terjadi karena Jabal adalah bagian kedua dari novel serial, maka untuk lebih nyamannya, sebaiknya pembaca menyelami judul serial yang pertama : Adham. Sayangnya, saya tidak tahu apakah Adham juga diterjemahkan kedalam versi Indonesia. Tapi terlepas dari itu, novel ini menyajikan sesuatu yang baru. Good!

16 Mei 2008—Rumah tercinta!! Ditemani ’Nyanyian Rindu’nya Ebiet!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s