Darah Juang

Lagu itu kembali kudengar setelah sekian lama seperti hilang ditelan kenangan. Sebuah lagu yang pernah begitu dekat tujuh tahun yang lalu. Kali ini bukan suara menggelora, bukan jiwa penuh idealisme dan mimpi. Tapi sebuah suara parau milik penyanyi jalanan.

“disini negri kami..”

Sebuah awal tanpa ekspresi untuk sebuah lagu tentang negeri penuh ironi bernama Indonesia. Negeriku sendiri!

” di negri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kecil tak sekolah
pemuda desa tak kerja..”

Wajahnya beku. Dia seperti sedang tidak menceritakan duka. Atau jangan-jangan dia sudah terlampau akrab hingga tak tahu lagi bagaimana wajah duka sebenarnya. Tapi itulah kenyataan, sebuah kenyataan yang seakan-akan mengabadi.

“…bunda relakan darah juang kami
padamu kami berjanji”

Ada yang tiba-tiba bergetar. Aku baru sadar lagu itu tak hanya berisi cerita sedih tentang Indonesia, lagu itu berisi sebuah janji. Lalu, dimana sekarang puluhan–bahkan ratusan–kaum terdidik yang dulu pernah mengikrarkan janji itu? Sebuah janji yang tergadai ketika berhadapan dengan realitas hidup yang jatuh cinta pada jebakan dunia.

Lalu pengamen itu berlalu dengan kata penutup yang selalu diulangnya setiap waktu : sebuah doa agar ‘kami’ selamat sampai tujuan dan sebuah pengharapan akan jiwa sosial ‘kami’ untuk menyambung hidupnya.

Lagu itu kembali kudengar. Kali ini bukan sebuah syair tentang keteguhan, tapi sebuah dendang yang melagukan kenyataan. Bukan dengan suara semangat menggelora namun dengan suara seadanya yang sepi dan hampa dari titi nada dan ritma!

^Salatiga,13 Feb08^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s