Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
(yang fana adalah waktu, Sapardi Djoko Damono,1978)
Saya ‘menemukan’ puisi ini beberapa bulan lalu ketika saya iseng-iseng mengumpulkan puisi-puisi pak sapardi tentang Hujan. Ada yang membuat saya langsung jatuh cinta pada puisi ini (lagi…)






