ruang kecilku

Oktober 23, 2009

Seandainya Fathimah Bukan Putri Nabi

Diarsipkan di bawah: bincang — ariyuli @ 4:40 am

“Seandainya Fathimah bukan putri Rasulullah, apakah ia akan menyejarah seperti sekarang?”

Pertanyaan itu begitu menggoda saya belakangan ini. Seperti mengintip saya kemana saya pergi.  Bukan! Saya tak hendak tidak menghormati putri kesayangan Rasulullah ini, tak hendak tidak menghormati ahlul Bait. Saya juga tak hendak menggugat sejarah. Saya hanya ingin bertanya pada penulis sejarah, atas dasar apa sejarah dituliskan.

Lalu,  semalam saya meng-sms beberapa teman tentang ini. Hampir lima orang. Ada dua jawaban yang saya dapat.

Fathimah emang bukan puteri Nabi. Dia anak murid, msh keturunan arab sih. kelas 2. agak autis dari kelas 1 masih belum mau belajar. maunya jalan-jalan mulu. kalo ditanya jawabnya ngawur..

“Pd fase awal perjuangan nabi d mekah,ktka mns mulia ini sujud d depan ka’bah,punggungnya dilempari kotoran onta yg banyak oelh kaum kafir quraiys shg nabi tdk mampu bangkit dari sujudnya lalu dtg seorg gadis kecil dgn berani menantang kaum kafir quraisy&membersihkan punggung nabi dr kotoran shg mrk jadi malu akan perbuatan mreka sendri..jauh sblm abinya (nabi) terkenal sbg rasulullah,gadis kecil ini sdh menyejarah atas keberanian dan kemuliaan akhlaknya..nasab mmg berpengaruh tp iman yg membentuk kemuliaan akhlak jauh lbh penting. tdk smw anak nabi spt ini, krn anak nabi nuh&luth tdk menyejarah dsebabkan kafir pada Allah.”

Lalu, menurut anda bagaimana?

(Salatiga, 23 Oktober 2009)

update 14November2009

Meif : Manusia memiliki sejarahnya sendiri. Seandainya Fathimah bukan puteri Nabi, ia akan tetap memiliki maknanya sendiri.

Oktober 21, 2009

Sebuah Dunia Bernama Pare!

Diarsipkan di bawah: perjalanan — Tag:, , , — ariyuli @ 1:04 pm

[Sebuah e-mail kepada seorang rekan]
Assalamualaykum, apa kabar? ? Alhamdulillah, hari ini aku libur, gak ngajar. Jadi kusempatkan nulis email buatmu. Hm, cerita tentang pare ya? He he he :) . Maaf,terlalu banyak cerita dan detil tentang pare yang tidak bisa diceritakan lewat sms, jadi kuputuskan cerita lewat email aja.

Aku datang ke Pare akhir April 2009.  Sendirian. Sebenarnya sudah pernah beberapa kali kesana siih, tapi belum memutuskan untuk belajar dan tinggal. Oh ya, ada beberapa jalur kesana, dari Jogja bisa naik bus Surabaya-Jogja (Semacam Eka, Mira, Sumber Kencono) turun di Jombang,trus naik angkot jurusan pare. Atau kalau mau naik kereta, bisa naik Gajayana (eksekutif Malang-Jakarta kalo ga salah) atau Kahuripan (Ekonomi, Jogja-Kediri). Nanti turun aja di Kediri, trus naik bus jurusan malang (bus Puspa) atau colt isuzu jurusan pare-kediri, bilang aja turun di BEC. Konon BEC adalah tempat kursus pertama yang berdiri di Pare, jadi siapapun yang pertama kali ke Pare biasanya akan turun di BEC. (lagi…)

[Resensi] Three Cups of Tea

Diarsipkan di bawah: resensi — Tag:, , , — ariyuli @ 12:43 pm

Penulis : Greg Mortenson & David Oliver Relin
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika) 2008

“.. (Di Pakistan dan Afghanistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis; pada cangkir pertama engkau cupmasih orang asing; cangkir kedua engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun—bahkan untuk mati”
(Haji Ali, Kepala Desa Korphe,Pegunungan karakoram,Pakistan)

Buku ini merupakan kisah nyata Greg Mortenson, seorang pendaki gunung asal Amerika yang berniat menaklukan puncak tertinggi kedua sedunia di Himalaya, puncak K2. Tahun 1993, ia melakukan perjalanan itu demi adiknya—Christa—yang telah meninggal. Namun, bukan hanya gagal, ia juga tersesat dan nyaris mati. Setelah berjalan selama tujuh hari, sampailah ia di desa Korphe, Pegunungan Karakoram, Pakistan. Di wilayah miskin ini jalan hidup Mortenson berubah. Ia melihat bagaimana anak-anak disana bersekolah : delapan puluh dua anak duduk melingkar, (lagi…)

Blog pada WordPress.com.