Sekedar merekam kicauan Burung-Burung Manyar, Y.B MangunWijaya
Sebuah mitologi Yunani yang ditulis Plato menyebutkan bahwa dulunya manusia diciptakan dengan dua kepala, dua badan, empat tangan dan empat kaki, tapi cuma punya satu hati. Lalu Tuhan memisahkan mereka, yang satu jadi laki-laki, yang satu menjadi perempuan. Mereka punya badan yang utuh, tapi hatinya cuma sepotong! Dan ketika mereka hidup di dunia hati-hati itu akan saling mencari. Saling memanggil satu sama lain. Cinta Platonik namanya.
Tersebutlah Setadewa (Tetto), yang menyebut dirinya anak kolong, bapaknya seorang serdadu KNIL, ibunya seorang indo bernama Marice. Dan Larasati (Atik), seorang periang, pecinta alam dan seorang nasionalis. Keduanya sama-sama berdarah biru dan saling mencintai. Namun roman antara keduanya disajikan dalam rajutan yang pelik dan politis. Pada masa itu, masa singkat ketika Posisi Belanda digantikan Jepang, Ayah Tetto ditangkap, kemudian ibunya dijadikan ‘gundik’ jepang. Kebencian pada Jepang (hingga Tetto menyamakannya dengan Indonesia) inilah yang menjadikan ia akhirnya memihak Belanda dengan menjadi anggota NICA, sementara Atik bekerja pada republik dengan menjadi seorang asisten Perdana menteri (Waktu itu dijabat Syahrir).
Melalui sajian sejarah tiga jaman di Roman ini– (lagi…)