“Seandainya Fathimah bukan putri Rasulullah, apakah ia akan menyejarah seperti sekarang?”
Pertanyaan itu begitu menggoda saya belakangan ini. Seperti mengintip saya kemana saya pergi. Bukan! Saya tak hendak tidak menghormati putri kesayangan Rasulullah ini, tak hendak tidak menghormati ahlul Bait. Saya juga tak hendak menggugat sejarah. Saya hanya ingin bertanya pada penulis sejarah, atas dasar apa sejarah dituliskan.
Lalu, semalam saya meng-sms beberapa teman tentang ini. Hampir lima orang. Ada dua jawaban yang saya dapat.
“Fathimah emang bukan puteri Nabi. Dia anak murid, msh keturunan arab sih. kelas 2. agak autis dari kelas 1 masih belum mau belajar. maunya jalan-jalan mulu. kalo ditanya jawabnya ngawur..“
“Pd fase awal perjuangan nabi d mekah,ktka mns mulia ini sujud d depan ka’bah,punggungnya dilempari kotoran onta yg banyak oelh kaum kafir quraiys shg nabi tdk mampu bangkit dari sujudnya lalu dtg seorg gadis kecil dgn berani menantang kaum kafir quraisy&membersihkan punggung nabi dr kotoran shg mrk jadi malu akan perbuatan mreka sendri..jauh sblm abinya (nabi) terkenal sbg rasulullah,gadis kecil ini sdh menyejarah atas keberanian dan kemuliaan akhlaknya..nasab mmg berpengaruh tp iman yg membentuk kemuliaan akhlak jauh lbh penting. tdk smw anak nabi spt ini, krn anak nabi nuh&luth tdk menyejarah dsebabkan kafir pada Allah.”
Lalu, menurut anda bagaimana?
(Salatiga, 23 Oktober 2009)